Juni 18, 2015

CERDAS MENGHADAPI KAUM PEMINTA DI BULAN YANG MULIA,

Ada Fenomena unik yang terjadi dalam realitas sosial bangsa kita, dimana kita bangsa indonesia tidak mampu menjadi tuan di rumah kita sendiri, yang penduduknya sebagaian besar muslim, ada apa dengan Bangsa kita ini?
Setiap kita melihat perumahan Elite di daerah kota kita, coba amati siaapa Tuannya dan sipa pembaantunya?
Kemudaian  coba kita bejalan di swalayan/ di mal-mal disana kita dapat lihat sipa pembelinya dan siapa pelayaananya serta siapa Bosnya ?
Atau Lihat Hotel-hotel berbintang kita dapat lihat siapa tamunya disana dan siapa Pelayannya disana?
Ceba sesekali ke restorn tang mewah lalu amati siapa tukang cuci piringnya dan siapa pembeli dan sipa pemiliknya?
Rasanya tak sanggup lagi melanjutkan renungan ini, tak ada gunanya Cuma merenung tanpa memberikan solusi, lebih baik gunakan hati yang jernih berbuat semampu kita untuk menjawab tantangan yang ada dinegeri kita yang tercinta ini.
Pada Bulan Ramadhan seperti ini biasanya kaum peminta/ pengemis akan semakin banyak bertambah jumlahnya dan akan menagkal dimana-mana terutama di tempat-tempat ibadah, diematis memang kaau kita  membahas kehidupan pengemis, bukan tidak pantas kita mengkritisi, karena itu diangap “pekerjaan” alternatif bagi mereka yang tidak memiliki keahlian/ kemampuan dan merasa lebih baik dari pada mencuri/ mencopet untuk memertahankan hidup.
Bukan hanya pada waktu bulan Ramadhan, pada saat merayakan hari raya umat muslim dan umat lainnya kita hanya bisa menundukan wajah, bagaimana kita akan mampu mengangkat wajah kita dengan bangga bila sebagian dari bangsa kita menjadi pengemis dadakan, tak jarang kita lihat dan dengar  melalui televisi/ koran/ radio banyak bagian dari bangsa ini rela mengantri dan berdesak-desakan demi angpao yang berisi bebrapa puluhan ribu rupiah, rela antri berdesak-desakan bakan sampai jatuh korban pada saat pembagian zakat, rela berhimpit-himpitan sampai jatuh korban dari anak-nakan sampai lansia pada saat pembagian 1 Kg daging korban.
Ya, begitulah selain tempat ibadah, pada bulan Ramadhan seperti ini para pengemis banyak manggak ditempat-tempat strategis seperti ampu merah, pusat perbelanjaan, tempat pariwisata dan yang lain-lain, mereka memanfaatkan memoentum yang pas untuk mengemis, dimana umat islam lagi dianjurkan untuk bersedekah, sehingga penghasilan para pengemis akan bertambah signifikan pada Bulan Ramadhan.
Sedangkan pemerintah sering kali menghimbau untuk tidak memberikan sesuatu pada pengemis baik dengan berbagai sapanduk, selogan dan lain sebaginya, itu salah satu reaksi pemerintah untuk mengurangi bahkan menghilangkan menjamurnya pengemis dan Gepeng dadakan, padahal pada saat indonesia merdeka telah disusun Undang-Undang Dasar 45 yang pada pasal 34 berbunyi “ Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”
Untuk melaksanakan amanat undang-undang tersebut Pemerintah telah memberikan subsidai, memeberikan pelatihan dan ketrampilan, rumah singgah, panti dan lain-lain bagi pengemis dan geeng tersebut, tetapi hal tersebut sudah tidak diminati lagi oleh para pengemis tersebut, karena hasil dari mengemis lebih menjajikan. Tidak memerlukan tenaga, fikiran dan kentrampilan untuk dapat menghasilkan uang.


Sumber : http://www.majamojokerto.com

Lalu bagiman sikap kita? Menhadapi para pengemis/ pengamen yang kadang kta jumpai diperempatan lampu merah, kadang-kadang dengan membawa anak balita yang berpakaian kumal dengan mengiba menengadahkan tangan ke kita? memang siah kita bisa berargumentasi dengan memberi uang kepada mereka seakan-akan kita memotivasi mereka untuk terus mengemis
tetapi kita juga bisa beragumen bahwa Rasulullah SAW meneladankan pada kita untuk memberi sedkah kepada peminta-minta. 
Lalau apa sikap kita? Menurut saya pribadi ya tergantung, tergantung kemampuan kita untuk berkontribusi terhadap kehidupan mereka, kalau kita memilih untuk tidak meberi uang terhadap mereka maka kita hraus bisa memerikan mereka pendikan, membekali mereka dengan ketarmpilan dan meberikan mereka pekerjaan yang layak bagi mereka, sehingga mereka mampu mandiri.
Tetapi kalau kita tidak dapat embatu kecuali dengan memberikan uang kepada mereka, maka lakukan itu, karena kita memang dainjurkan untuk memerikan sedekah kepada para peminta-minta, memberikan makan kepada yang kelaparan dan seterusnya.
Lalau bagaimana jika uang yang kita berikan tai digunakan bukan untuk pada tempatnya, yang mengeis itu bukan fakir miskin dan uangnya dipakai buat beli hendphone atau barang-barang mewah lainnya misalnya, atau bahkan untuk membeli minum-minuman keras, atau barang terlarang lainnya.
Ya tak usah pusing-pusing, itu kan tanggung jawab mereka terhadap Alah SWT, kita hanya dianjurkan untukbersedakah, bukan untuk ber su’udzon, kita diperintahkan bersedakah dengan ikhlas dengan apa yang kita sedekahkan.
Wallahu a’lam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar