Desember 01, 2014

MENYONGSONG REMBULAN

”Lir-ilir tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro. Dodot-iro dodot-iro kumitir bedah ing pinggir, dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, yo surako, surak iyyoo!”
Gerhana rembulan hampir total. Malam gelap gulita. Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi. Sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi.
Matahari adalah lambang Tuhan. Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga, dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita.
Dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas. Orang menyangka kepala adalah kaki. Orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain, atau bahkan sengaja menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, bahkan ke mana melangkah, dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir, kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit. Bahkan kaki kita sudah berlari ke sana ke mari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajarannya-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk insaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana Iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.
Siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia, yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka? Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan.
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari, sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya, atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat, agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi?

(Emha Ainun Nadjib dalam album Kyai Kanjeng: Menyorong Rembulan)

November 19, 2014

BBM Naik,... Aku Rapopo !!!

Tepat setelah pukul 00.00 WIB , harga BBM di naikkan. Maka hal ini tidak kita pungkiri juga memberatkan diri kita dari sisi naiknya harga – harga barang lainnya yang biasanya mengikuti kenaikan BBM.Namun, sebagian manusia keliru dalam mengekspresikan keadaan ini. Demo, mencela pemerintah, dan hal – hal yang tidak sesuai syar’ipun gencar dilakukan.
Adapun bagi kita, tidak selayaknya bagi kita untuk mengikuti hal – hal yang sifatnyademikian.Ada beberapa renungan yang perlu kita perhatikan agar kita bisa berlapang dada  dan bijak untuk menyikapi fenomena kenaikan BBM ini.
YANG PERTAMA, adalah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang artinya :“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi )
Sejelek dan sepahit apapun intruksi dan keputusan pemerintah, kita wajib patuh selama itu bukan dalam kemaksiatan.Inilah prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
YANG KEDUA, adalah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang artinya :
”Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).
Dari hadits ini,kita bisa merenungi bahwa sepahit apapun keputusan kenaikan BBM itu, pemerintah tidak sampai menyiksa dan merampas harta kita. Yang terjadi hanyalah mereka mengambil kembali keringanan yang sudah mereka berikan betahun tahun untuk kita nikmati, yaitu subsidi.Mengapa kita harus marah pada mereka?
YANG KETIGA, firman Allah Azza Wa Jalla yang berbunyi :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 5).
Faedah merenungi ayat ini adalah bahwa setelah kesulitan kenaikan harga BBM dan segala imbasnya ini pasti akan diiringi oleh kemudahan dari Allah Yang Maha Memberi Rizki. Mungkin gaji akan naik, mungkin omzet usaha akan bertambah, dan kemungkinan yang lainnya.Dan ini sudah kita alami , karena BBM bukan kali ini saja naik.Toh, naik berapapun kita masih mampu membelinya selama ini.
YANG KEEMPAT, ucapan Al Hasan Al Bashri rahimahullah :
“Aku telah membaca di 90 tempat (90 kali disebutkan) di dalam al Quran, bahwa sesungguhnya Allah telah mentakdirkan rizki dan menjamin rizki itu untuk makhlukNya, dan aku membaca (hanya) pada satu tempat “syaitan menakut-nakutimu akan kefakiran” , lantas apa  kita ragu terhadap perkataan Yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita mempercayai perkataan pembohong hanya di satu tempat ?”
Dari sini saudara – saudariku, yakinlah bahwa naik atau turunnya BBM dan harga – harga tidak akan mengurangi atau menambah kekayaan kita.Semua sudah ditakdirkan Allah Azza Wa Jalla.
YANG KELIMA, adalah wajib bagi kita untuk bersabar dalam setiap kesulitan. Ini sebagaimana yang diajarkan Nabi shalallahu alaihi wa sallam :
عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ
“Amat menakjubkan keadaan orang mu’min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seorangpun melainkan hanya untuk orang mu’min itu belaka. Apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Apabila ia ditimpa musibah, maka iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Dari sinilah keimanan kita diuji. Jika kita bersabar, kita menunjukkan kualitas keimanankita.Jika kita mengeluh, apalagi sampai demo (semoga tidak ya..) maka kita perlu mengkoreksi keimanan kita.
DAN TERAKHIR , renungan ini saya tutup dengan ucapan Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah dalam salah satu pernyataan beliau yang masyhur :
“Siapa saja yang ingin duduk bersama para pendusta besar, maka hendaknya ia baca koran-koran, apabila sedikit saja roti, gula, dan garam berkurang maka mereka langsung mengkafirkan pemerintah. Namun ketika pemerintah memenuhi keinginan mereka, justru bermuka dua sambil memuji-muji : “Pemimpin kita adalah pemimpin yang mendapat petunjuk.”
Jadi dari sini kita hendaknya menjauhi segala pemberitaan media massa yang berpotensi membuat kita terprovokasi atau ikut – ikut menjelekkan pemerintah. Biarlah media ngomong apa, yang penting kita katakan : “ BBM mundhak, aku ra papa.”
Mungkin sedikit renungan ini bisa mengobati segenap kekhawatiran kita tentang kenaikan BBM ini. Ini hanya coret – coretan dari seorang yang faqir di hadapan Allah, maka segenap koreksi dan masukan atas kesalahan tulis  sangat kami harapkan.
Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thoriq.
Akhukum, Jarot  Abu Mas’ud – afallahu anhu
Sumber : WA Ahlus Sunnah Karawang

Agustus 15, 2014

PRILAKU RAKYAT MEMPENGARUHI PRILAKU PEMIMPIN


Pemimpin Nasional sudah terpilih untuk 5 tahun kedepan (walupun masih dalam sengketa), selanjutnya bagaimana sikap kita sebagai seorang warga negara yang baik, sebagai rakyat indonesia ?
Kondisi yang ada saat ini, banyak sekali pemberitaan tentang para pemimpin-pemimpin kita yang berbuat dzolim kepada rakyatnya, banyak yang korupsi, banyak yang menerima suap, manyak yang menyalahgunakan kewenangannya, itulah hidangan sehari-hari yang disuguhkan oleh media masa di Bangsa kita ini, Head Line Surat kabar banyak yang berisi cacian, hujatan, membuka aib para pemimpin dan aib keluarganya, bahkan ada juga fitnah yang keji memerpa para pemimpin.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai muslim? Sebagai warga negara?, sebagai rakyat indonesia? Apakah kita juga akan ikut-ikutan asyik mengolok-olok pemimpin kita, ikut menyebarkan aib peminpin kita? Yang lebih parah lagi apa kita akan juga ikut menyebarkan fitnah yang kita sendiri belum tahu kejelasan benar tidaknya berita tersebut?
Islam memerintahkan untuk taat kepada pemimpin karena dgn ketaatan rakyat kepada pemimpin (selama tak maksiat) maka akan terciptalah keamanan & ketertiban serta kemakmuran.
Prilaku rakyat (orang yang dipimpin)  sangat mempengaruhi prilaku pemimpinya (orang yang memimpin) hal ini dapat kita lihat dari hadis Rasulullah, ada dua buah hadist diantaranya yang dapat kita ambil hikmahnya tentang sikap rakyat yang dapat mempengaruhi pemimpinya :
Pada saat Rasulullah shalat Subuh dengan membaca surat Ar-Ruum, lalu bacaan beliau bercampur dgn lainnya. Setelah selesai shalat beliau bersabda:


Bagaimana keadaan orang-orang yg shalat tanpa bersuci dengan baik? Bacaan AI Qur'an kita menjadi kacau karena mereka. [HR. Nasai No.938].
Pelajaran yang kita ambil dari hadist tersebut adalah: ada sebagaian/ sekelompok orang yang tidak bersuci secarara sempurna (mungkin aa beberapa bagian tubuh yang seharusnya i basuh tetapi tidak dibasuh) dan menjadi makmum Rasulullah pada saat saholat subuh, karena kesalahan beberapa orang makmum dapat mempengaruhi bacaan imam (pemimpin), begitu juga dengan prilaku orang yang dipimpin jika tidak betul prilakunya, tidak betul perbuatannya, dapat mempengaruhi sikap pemimpinnya atau mempengaruhi apa yang dikerjakan oleh pemimpinnya.
Hadist kedua adalah hadist dari Ubadah bin Shamit r.a. berkata, "Suatu ketika Rasulullah saw. keluar untuk memberitahu kami mengenai Lailatul Qadar. Tetapi sayang waktu itu, terjadi pertengkaran diantara dua orang Islam, setelah itu Rasulullah bersabda, "Aku keluar untuk memberitahu kapan munculnya Lailatul Qadar, tetapi sayang si fulan dan si fulan saling mencaci, sehingga penentuan mengenainya telah diangkat, barangkali hal itu lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh, dan kelima."
Pelajaran haist yang dapat kita ambil adalah : Dahulu sebelum ada hadist ini turunnya Lailatul Qadar sudah diketahui oleh Rasulullah SAW, dan setiap akan ada turunnya Lailatul Qadar, Rasulullah selalu memberitahunkan kepada umatnya, tetapi pada saat itu karena pertengkaran 2 orang muslim dan mereka saling mencaci satu sama lain (melakukan perbuatan tercela) dan kedua orang tersebut adalah umat Rasulullah (orang yang dipimpin oleh Rasulullah) maka ilmu untuk dapat mengetahui kapan turunnya Lailatul Qadar lalu diangkat lagi oleh Allah SWT sehingga penentuan turunnya Lailatul Qadar disuruh untuk mencari sendiri pada malam –malam ganjil pada bulan ramadhan,
Dari pelajaran kedua hadist diatas maka dapat kita ambil pelajaran bahwa prilaku rakyat/masyarakat sangat mempengaruhi prilaku pemimpin kita, karena sesungguhnya urusan pemimpin itu adalah urusan Allah, Allah akan memilihkan pemimpin yang baik, yang taat menjalankan perntah agama, yang akan menegakkan kebenaran, yang lebih mencintai rakyatnya, apabila rakyat yang dipimpinnya juga taat menjalankan perintah agama, selalau melakukan perbuatan yang baik dan benar, mencintai pemimpinnya serta patuh dan taat terhadap pemimpinnya, akan tetapi juga sebaliknya Allah akan memilihkan pemimpin untuk yang lebih cinta kepada dunia, apabila rakyatnya juga lebih cinta pada dunia?
Sikap kita sebagai rakyat yang baik, sebagai warga negara yang baik yang beragama Isalam, seharusnya adalah mendukung siapaun pemimpin yang terpilih, tidak perlu menghujat, tidak perlu mencela, tidak perlu mencaci. Karena sesungguhnya urusan pemimpin adalah urusan Allah, lalu pantaskah kita menhujat urusan Allah? Pantaskah kita mencela urusan Allah, pantaskah kita untuk mencaci urusan allah?
Marilah kita bangun bangsa dan negara ini mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga kita sendiri, tidak perlu menunjuk seseorang, tidak perlu menghujat para pemimpin dan yang memilihnya, mari kita bercermin dengan apa yang sudah kita perbuat, apalagi dengan megklaim bahwa dirinya adalah orang baik, orang cerdas, orang paling sholeh, orang paling alim, dan mengangap mayoritas orang indonesia adalah orang yang bodoh, orang yang tidak taat kepada agama, orang-orang jahat, sehingga bangsa indonesia dipilihkan pemimpin yang setipe dengan rakyatnya tersebut, Naudzubillahimindzalik, marilah kita lihat diri kita masing-masing, tidak usah melihat orang laian, Pernahkah dala do’a kita meminta pemimpin yang baik untuk negeri ini, seberapa sering kita berdo’a untuk diberikan pemimpin yang baik untuk negeri ini, sering kali kita berdo’a hanya untuk kebaikan diri dan keluarga kita, kesehatan diri dan keluarga kita, dan keselamatan diri dan keluarga kita.
Dan lebih penting mana? Kita mengoreksi kekurangan pemimpin kita dan menghujatnya, dengan kita mengoreksi sholat kita apakah sudah baik atau belum? Mengoreksi wudhu kita apakah sudah sempurna atau belum? Mengoreksi semua amal kita sudah apakah sudah benar atau belum???
SEORANG MUSLIM YANG BIJAK AKAN TAHU MANA YANG LEBIH PENTING BAGI DIRINYA

(ringkasan  Khutbah Jum’at di Masjid Al-Haif kanwil Kemenag Kepri yang disampaikan Oleh Ust Arif)
Ditulis dengan menggunakan bagasa sendiri, mohon maaf bila ada kesalahan dalam menangkap materi khutbah yang disampaikan oleh Khatib.
Semoga bermanfaat

INGIN MENJADI MANUSIA YANG BAIK-BAIK



Betapa bahagianya Jika kita bisa menjadi manusia yang berarti bagi orang lain
Pada saat lahir Kita menagis dengan kencang tetapi manusia lain di sekitar kita tersenyum bahagia, bergemberia dan tak ada yang bersedih menyambut kelahiran kita.
Dan pada saat wafat nanti, kita tersenyum bahagia, karena sudah selesai melaksanakan tugas sebagai makhluk Allah SWT dengan baik di dunia, tetapi manusia di sekeliling kita menangis, turut berduka karena merasa kehilangan kita.
Hindarkan kami dari perbuatan keji dan munkar ya Allah, tunjukanlah kami ke jalan yang benar, jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang engakau Ridhoi dan yang Engkau Beri Nikmat, dan bukan jalannya orang-orang yang engaku murkai dan engkau sesatkan.
Pada saat maut datang nanti semoga kami bukan tergolong orang-orang yang menangis karena ketakutan mempertanggungjawabkan perbuatan kami di dunia, yang penuh tipu daya, tamak, rakus, menghalalkan segala cara untuk memperoleh kenikmatan dunia, suka ngapusi/ bohong dan orang-orang disekitar Kami tersenyum, karena sudah tidak ada lagi manusia pembuat onar dan pelaku maksiat yang tamak, rakus, serakah an sombong...
Teman-temanku, sahabat-sahabtku yang baik. Maafkan aku....
Apabila keberadaanku selama ini menyebabkan resah dan tidak nyaman.
Sungguh tidak ada maksud secara sengaja untuk menyakiti teman-teman, dan sahabt-sahabt semua, hanya mungkin karena kebodohanku, kekurangan pergaulanku, kekurang pandaianku dalam menyampaikan kata-kata, kekurang pandaianku bersikap, sehingga terkadang menyinggung perasaan kalian.
Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Agustus 08, 2014

TUGAS DAN TANGUNG JAWAB PPHP


TUGAS DAN TANGUNG JAWAB PPHP

PPHP / Pejabat Penerima  Hasil Pekerjaan adalah salah satu pihak dalam pengadaan barang/jasa pemerintah yang sangat menentukan apakah hasil dari pengadaan barang/jasa tersebut sesuai dengan yang tertuang dalam kontrak/perjanjian antara penyedia dengan PPK atau tidak, walaupun kedudukan atau keberadaan PPHP tidak terlalu diperhaikan dan dipermasalahkan dalam sebuah instansi, tetapi tugas dan tanggung jawab PPHP sangat berat.

Tugas utama PPHP sebagaimana dalam pasal 18 Perpres 54  tahun 2010 dan perubahannya adalah melakukan pemeriksaan/ Pengujian hasil pekerjaan pengadaan barang/jasa sesuai yang tercantum alam dokumen kontrak, yang mencakup kesesuaian jenis, spesifikasi teknis, jumlah/volume/kuantitas, mutu/ kualitas, waktu dan tempat penyelesaian pekerjaan apakah sesuai dengan yang tertuang dalam kontrak atau tidak, serta membuat bertia acara hasil pemeriksaan dan pengujian tersebut.

Sehingga seorang PPHP harus memahami setiap spesifikasi barang/jasa yang akan diadakan dan memahami setiap jenis-jenis kontrak yang digunakan. Apabila didalam pemeriksaan/pengujian dibutuhkan tenaga tekins maka KPA dapat membentuk Tim teknis/ Menunjuk Tenaga Ahli untuk membantu Tugas PPHP (pasal 18 ayat 6 an 7 Perpres 70 tahun 2012)  
Di dalam Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, ketentuan Pasal 18 ayat (4) huruf e disebutkan bahwa syarat syarat PPHP adalah:
  1. PA/KPA menetapkan Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.
  2. Anggota Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan berasal dari pegawai negeri, baik dari instansi sendiri maupun instansi lainnya.
  3. Dikecualikan dari ketentuan pada ayat (2), anggota Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan pada Institusi lain Pengguna APBN/APBD atau Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola dapat berasal dari bukan pegawai negeri.
  4. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
    1. memiliki integritas, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
    2. memahami isi Kontrak;
    3. memiliki kualifikasi teknis;
    4. menandatangani Pakta Integritas; dan
    5. tidak menjabat sebagai Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) atau Bendahara.

Tidak ada syarat khusus dalam pasal tersebut sebagai seorang PPHP (misalnya harus bersertifikat dll,) bahkan seorang PPHP hanya dilarang menjabat sebagai PPSPM dan bendahara, banyak pertannyaan pada satuan kerja pada Madrasah Negeri (MAN, MTsN dan MIN) Apakah boleh PPHP dijabat rangkap oleh PPK atau Pejabat Pengadaan/ Panitia Pengadaan/ anggota Pokja, atau anggota ULP, karena larangan dalam Peraturan Presiden tersebut hanyalah dilarang dirangkap oleh PPSM atau Bendahara.
Kalau berdasarkan aturan Perpres memang hal tersebut tidak dilarang, tetapi dari segi etika pengadaan, saya berpendapat itu kurang tepat, karena dapat menimbulkan  konflik of interest  / pertentangan kepentingan, sorang pejabat pengadaan memeriksa barang yang diadakan sendiri, seorang PPK memeriksa barang yang dia kontrakan sendiri, ya bisa kita pikir sendiri seandianya hal tersebut terjadi????

PERMASALAHAN YANG DIHADAPI OLEH PPHP.

Ada beberapa hal yang menjadi permasalahan yang dihadapi oleh PPHP baik masalah itu dapat berampak hukum (karena merugikan negara) maupun masalah yang berdampak melanggar administrasi, permasalahan tersebut diantaranya :

  1. Sebagaimana disebutkan dalam Perpres 54 tahu 2010 tugas PPHP adalah menguji dan memeriksa kualitas serta kauntitas barang/ jasa yang di hasilkan dari proses tersebut, PPHP tidak ada tugas untuk mengkritisi kelebihan harga, asalkan spesifikasi, jenis, jumlah sesuai yang tercantum dalam kontrak dan diuji sudah berfungsi dengan baik, datang tepat waktu maka PPHP wajib membuat berita acara pemeriksaan barang tersebut dan menyatakan pekerjaan telah selesai dikerjakan. namun ada beberapa kasus pengadaan barang apabila dilihat harganya tidak wajar, ada terjadi kelebihan harga / Markup  harga,  apabila di cek dari harga pasaran, baik memalui internet atau memalaui toko-toko penjual barang, hal ini kadang terjadi masalah bagi PPHP apabila dalam pemeriksaan auditor menganggap ini sebagai temuan yang dikategorikan merugikan negara, maka posisi PPHP sebagai pihak yang menerima pekerjaan sedikit banyak akan dikait-kaitkan dari masalah tersebut, walaupun sesungguhnya kesalahan tersebut kemungkinan terjai karena HPS yang dibuat PPK terlalu tinggi, kemudian Pejabat pengadaan/ Pokja ULP tidak melakukan kaji ulang terhadap HPS yang dibuat oleh PPK, proses pengadaan secara pengadaan langsung, sehingga tidak ada persaingan. 
  2. Masalah yang kedua adalah PPHP merupakan tugas tambahan bukan tugas pokok dari seorang pegawai, apabila PPHP tersebut melaksanakan dinas luar/ keluar kota dalam hal melaksanakan tugas yang berkaitan dengan tupoksinya sebagai seorang pegawai sesuai dengan jabatannya, maka apabila proses pengadaan barang/jasa yang telah selesai pada tanggal PPHP tersebut akan terjadi kesulitan dalam hal pemeriksaan, apabila dibuat berita acara pada hari tersebut PPHP tidak ada di tempat, dan apabila di buat berita acara setelah PPHP pulang dari dinas luar maka, akan terjadi keterlambatan dalam berita cara penyelesaian pekerjaan, sehingga penyedia wajib dikenakan dena, yang itu tidak mungkin dapat diterima oleh penyedia karena bukan kesalaan pada penyedia. ada solusi untuk memecahkan masalah tesebut misalnya dengan mempercayakan tugas PPHP kepada seorang teman yang dapat dipercaya untuk memeriksa barang pada saat datang, dan pada saat PPHP pulang dari dinas luar baru barang tersebut baru diperiksa oleh PPHP untuk memasitikan keseuaian barang dengan kontrak, setelah sesuai baru dibuat berita acara dengan tanggal pada saat barang datang (mengambil langkah yang lebih aman walaupun secara administrasi itu tidak dapat dibenarkan). Dan setelah itu baru diproses pencairannya.
  3. Masalah ketiga, PPHP tdak pernah mengikuti kronologi pengadaan dari awal, mulai dari apa yang dilakukan PPK dari survey harga, menentukan spesifikasi teknis dan membut HPS, samapi dengan proses pada pejabat pengadaan/ ULP, PPHP hanya tahu setelah pekerjaan selesai, kemudian memeriksa apakah barang sesuai dengan kontrak/ tidak. apabila terjadi kasus perbedaan antara barang/jasa yang disediakan oleh penyedia tidak sesuai dengan yang teruang didalam kontrak, maka PPHP tidak akan mau membuat berita acara yang menyatakan pekerjaan sudah selesai dengan baik, pada saat terjadi hal yang demikian yang sering terjadi adalah, bukan barangnya yang diganti untuk menyesuaikan spesifikasi yang ada pada dokumen kontrak, tapi kebanyakan dokumen kontraknya yang diganti menyesuaikan barang yang ada, tetapi harga masih tetap sama. Secara persis PPHP tiak tahu mana yang salah karena memang tidak mengetahui kronologinya, setelah kontrak dan spesifikasi diperbaiki/ disesuaikan dengan barang maka mau tidak mau PPHP harus membuat berita acara pemeriksaan dan menyatakan bahwa barang yang ada sudah sesuai dengan dokumen kontrak.
Itulah resiko seorang PPHP, sering tidak dianggap dalam proses pengadaan, tetapi tanggungjawabnya sangat besar, PPSPM, Benahara dan PPK mencairkan uang dengan acuan sudah diperiksa PPHP, sehingga keputusan PPHP untuk menyatakan sesuai / tidaknya barang tersebut dengan kontrak sangat menentukan.



BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK PENDENDAM


Share dari Status Teman FB

Perhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno,

"Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Meskipun secara politik bersebrangan, Soekarno tetap menghormati keulamaan Hamka.

Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”

Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

Bangsa ini dibangun oleh para negarawan yang tegas tapi santun ...

Karena kritiknya yang tegas pada orde baru, Mohammad Natsir bersama kelompok petisi 50 dicekal.

Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islamy.

Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang.

Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun.

Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu.

Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri.

Misalnya ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Bangsa ini berdiri karena para founding fathers yang toleran dan penuh empati ...

Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sderhana bahkan tak punya rumah.

Ketua Umum Partai Kristen Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah untuk Prawoto.

Bangsa ini besar karena kesederhanaan pemimpinnya ...

Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.

Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, apa yang terjadi?

Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya.

Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.

Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung fairness ...

Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi.

Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”.

Akhirnya diri kita sendirilah yg menentukan :
Jadi besar atau kerdil.

Jadi pemaaf atau pendendam.

Jadi penuh empati atau suka menghakimi.

Jadi penyebar damai atau penebar fitnah.

Agustus 06, 2014

KEUTAMAAN ILMU


KEUTAMAAN ILMU

Ringkasan Kajian Ust. Arif (Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Abas Tanjungpinang)
di Surau Baitussalam      

Bagi seorang Muslim menuntut ilmu hukumnya wajib

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مُسْلِمٍ

“ menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”

(Hadits sahih, diriwayatkan dari beberapa sahabat diantaranya:  Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhum)

Ilmu merupakan Inti dari segala Amal ibadah, karena Ibadah yang diterima memiliki dua kriteria
1.       Iklas
Memurnikan tujuan Beribadah semata-mata hanya murni untuk Allah Swt, Bukan karena pujian dan bukan karena manusia.
2.       Mengikuti Syariat / Mutabaa’ah
Beribadah sesuai dengan tuntunan/ ajaran Rasulullah SAW,

Majelis Ilmu (ilmu agama : kajian ilmu agama, ceramah agama, majelis taklim) dapat dibaratkan seperti hidangan Syurga, dapat kita bayangkan hidangan dunia saja banyak sekali orang yang suka, apalagi hidangan syurga, hanya ada 2 kriteria orang yang tidak suka akan hidangan, yang pertama adalah orang yang sudah kenyang, (dalam hal ilmu berarti orang yang sudah menguasai ilmu tersebut dari A sampai Z, sudah menguasai semua ilmu yang akan diajarkan dalam majelis tersebut) yang kedua aalah orang yang sakit, bagi orang yang sedang sakit makan apa saja tidak terasa enak, sehingga dia tidak suka akan hidangan tersebut (dalam hal ilmu yang dimaksud orang yang sakit tersebut adalah orang yang mungkin sakit hatinya, sakit jiwanya, sakit qolbunya, sehingga akan sulit untuk menerima ilmu yang beranfaat)

Dalam surat Alfatihan yang kita baca minimal 17 kali dalam sehari semalam pada saat sholat lima waktu, kita selalu meminta untuk ditunjukan jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engakau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat.

Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah oarng yang berilmu tetapi tidak mau mengamalkan, tidak mau melaksanakan perintah Allah, tidak mau beribadah kepada Allah sedangkan mereka tahu ilmu/ mengetahui cara beribadah yang sesuai dengan syar’i.
Contoh : Bisa membaca Al-Quran tetapi tidak pernah / Tidak mau membaca Al-Quran, tahu bahwa korupsi, ngapusi, berbohong itu dilarang tetapi masih tetap saja dilakukan, tidak melaksanakan sholat fardhu padahal dia tahu sholat itu wajib dan sudah bisa melaksanakan dan lebih banyak lagi contoh orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya.

Sedangkan yang dimaksud orang-orang yang tersesat adalah orang yang beribadah tetapi tidak memiliki/ tidak tahu ilmunya.
Contoh : sholat tetapi tidak tahu cara-cara sholat yang betul seuai dengan syar’i, puasa tapi tidak tahu hukum-hukum puasa, dan apa yang membatalkan puasa, dan lain sebagainya perbuatan ibadah yang tanpa didasari dengan ilmu.

Maka ilmu merupakan inti dari segala bentuk ibadah, jangan pernah berhenti menuntut ilmu, dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari tersebut, dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu Agama, seseorang dikatakan berilmu apabila seseorang tersebut telah mengetahui hukum suatu perkara sesuai dengan yang tertuang dalam Al_Quran dan Hadist dan melaksanakan perkara tersebut sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW,
Apabila kita memang betul-betul meminta jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT, dan bukan orang-orang yang dimurkai serta bukan orang-orang yang tersesat,
Kita harus menuntut ilmu agam dan mengamalkan ilmu yang sudah kita dapat tersebut,

Semoga bermanfaat, mohon maaf apabila ada salah penafsiran dari yang telah disampaikan oleh Ustadz Arif.