Februari 23, 2015

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) PADA KEMENTERIAN AGAMA


Unit Layanan Pengadaan (ULP) terbentuk berdasarkan Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemeintah, pada pasal 14 setiap Kementerian/Lembaga/ Pemerintah Daerah/ Instansi diwajibkan mempunyai ULP yang dapat memberikan Pelayanan/ Pembinaan bidang pengadaan Barnag/ Jasa, kemudian lebih lanjut diatur dengan Peraturan Kepala LKPP Nomor 5 tahun 2012, pada Perka tersebut semakin Jelas Kedudukan, Tugas dan fungsi dari ULP.

Berdasarkan Peraturan Presiden dan Pearturan Kepala LKPP tersebut, kementerian agama sebagai salah satu Kementerian menindak lanjuti dengan mengeluarkan payung hukum tentang ULP dilingkungan Kementerian Agama dengan diterbitkannya PMA Nomor 75 tahun 2013 Tentang Unit layanan Pengadaan Dilingkungan Kementerian Agama, dalam peraturan ditetapkan ULP pada Kementerian Agama merupakan Organisasi permanen yang melekat pada unit yang sudah ada.

Ada 5 Jenis ULP pada Kementerian Agama diantaranya adalah ULP Kemenag Pusat melekat pada biro Umum (untuk seluruh Unit Eselon I yang berada di Kemenag Pusat); ULP Kemenag Provinsi Melekat pada bagian Tata Usaha (untuk satuan kerja Kantor Wilayah Kemenag); ULP Kemenag Kab/ Kota melekat pada Subbag Tata Usaha (untuk Pengadaan dilingkungan Kemenag Kab/Kota dan Madrasah yang ada dilingkungannya); ULP PTAN (pada masing-masing perguruan Tinggi negeri;  ULP Balai (pada masing-masing Balai Diklat).

Organisasi ULP Terdiri dari :
a.    Ketua ULP
b.    Sekretariat ULP
c.    Pokja ULP
Untuk ULP Kemenag Pusat SK dikeluarkan Oleh Sekretaris Jenderal Kemenag RI, ULP Kemenag Provinsi Oleh Kepala kantor Wilayah, ULP Kemenag kabupaten Kota Oleh Kepala Kemenag Kabupaten Kota, ULP PTAN Oleh Pimpinan PTAN dan ULP Balai di SK kan Oleh Kepala Balai, Ketiga unsur tersebut harus ada dalam Organisasi ULP, dimana Kepala ULP dan Sekretaris ULP dalah Pejabat/ Pelaksana pada unit yang dilekati oleh Keberadaan ULP Tersebut, Kepala ULP Pusat adalah Kepala Biro Umum, Kepala ULP Kemenag Provinsi adalah Pejabat/ Pelaksana di bagian Tata Usaha, Kepala/ sekretaris ULP Kemenag kabpaten Kota pejabat/pelaksana pada subbag tata Usaha. Sedangkan Pokja bisa berasal dari mana saja yang, yang memenauhi syarat sebagai Pokja ULP sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pada Ketentuan Peralihan Pasal 19 PMA Nomor 75 tahun 2013, ULP Kemenag Kabupaten Kota dan ULP balai harus terbentuk pada Tahun 2014, dan apabila ULP Kemenenag Kab/ Kota dan ULP Balai  Belum terbentuk maka Menginduk Pada ULP Kemenag Provinsi yang ada diwilayahnya.

Pada Tanggal 2 Februari 2015 terbit Peraturan Kepala LKPP Nomor 2 tahun 2015 tentang Perubahan Perka LKPP Nomor 5 tahun 2012 tenang Unit Layanan Pengadaan (ULP), perubahan tersebut diantaranya pada Pasal 1 ayat 8 yang berbunyi Kelompok Kerja ULP selanjutnya disebut Pokja ULP adalah kelompok kerja yang terdiri dari pejabat fungsional pengadaan yang berjumlah gasal dan beranggotakan paling kurang 3 (tiga) orang dan dapat ditambah sesuai dengan kompleksitas pekerjaan, yang bertugas untuk melaksanakan pemilihan Penyedia Barang/Jasa di Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi,

Dari penafsiran peraturan tersebut semua anggota POKJA ULP adalah Pejabat Fungsional Pengelola Pengadaan barang/Jasa, yang notabenya jumlahnya masih sangat minim, bahkan banyak Kemenag Kabupaten/ Kota, bahkan Kanwil Kemenag Provinsi beleum memiliki Tenaga Fungsional Pengadaan Barang/jasa. Dengan demikian ULP Pada Kemenag Kab/ Kota akan Kesulitan Untuk memiliki POKJA.

Kembali pada PMA 75 tahun 2013, Organisasi ULP adalah, Unsur Ketua, Sekretarisat, dan POKJA ULP, maka Organisasi ULP Tidak akan Sah secara hukum apabila tidak memiliki POKJA, sehingga proses pengadaan barang/jasa harus menginduk pada ULP yang ada pada Kanwil di wilayahnya. Atau ULP pada Kemenag Kabupaten Kota Bisa Mengangkat POKJA dari instansi lainnya yangmemenuhi syarat (pejabat fungsional pengadaan). Paling sedikit 3 orang.

Ini yang menjadi problematika yang harus segara diambil kebijakan oleh unsur-unsur pimpinan mengingat Inpres Nomor 1 tahun 2015 yang mengharuskan penandatanganan Kontrak (konstruksi) paling lambat dilaksanakan akhit Maret 2015, sehingga pelaksanaan pengadaan barang/ jasa dikementerian agama bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku







Februari 06, 2015

SHOLAT

Ringkasan Kajian Agama Islam
Tanggal 1 Februari 2015
Di Surau Baitussalam Perumahan Kenangan Jaya IV
Ust. Arif

  1. Keudukan Sholat
Sholat adalah salah satu rukun Islam, sebagaimana diketahui Rukun merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dalam suatu amalan ibadah, dan apabila salah satu rukun saja tidak dikerjakan, maka suatu amalan/ ibadah tersebut tidak sah, atau tidak ada wujud. Misalnya salah satu rukun sholat adalah membaca surat Al-fatihah, bila seseorang sholat tidak membaca Al-fatihah, maka sholatnya tidak syah, salah satu Rukun haji adalah wukuf di arafah, apabila tidak dikerjakan, maka hajinya tidak sah, salah satu rukun nikah adalah ijab dan kabul (akad nikah), apabila tidak dikerjakan maka, pernikahan tersebut tidak sah.
Jadi semua amalan ibadah, apabila ada salah satu rukunnya tidak dilaksanakan maka amalan tersebut tidak sah, tidak ada/ tidak wujud, demikian juga dengan Rukun Islam, salah satunnya adalah Sholat, maka jika ada seseorang yang mengaku Islam, tetapi tidak melaksanakan sholat, maka orang tersebut belum mewujudkan islam dalam kehidupannya,
Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memerintahkan untuk sholat, sebagamana hadist :
Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu 'anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

.
"مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع واضربوهم عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع" 
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.”(hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan) 
Yang dimaksud memerintahkan disini bukan hanya memerintahkan saja tetapi harus mengajari dan memberi contoh dalam mengerjakan sholat, jangan kita memerintahkan anak untuk sholat berjamaah ke masjid, tetapi orang tua malah asik nonton TV atau melakukan kesibukan lain, orang tua juga wajib mengajari sholat anak-anaknya.

  1. WAKTU-WAKTU SHOLAT FARDU
Sedangkan waktu-waktu sholat fardhu adalah sebagai mana hadist Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah didatangi Jibril Alaihissallam lalu ia berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Bangun dan shalatlah!” Maka beliau shalat Zhuhur ketika matahari telah tergelincir. Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat ‘Ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat ‘Ashar ketika bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya. Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat Maghrib dan berkata, “Bangun dan shalatlah.” Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam. Kemudian Jibril mendatanginya saat ‘Isya' dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat ‘Isya' ketika merah senja telah hilang. Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat Shubuh dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Shubuh ketika muncul fajar, atau Jabir berkata, “Ketika terbit fajar.”
Keesokan harinya Jibril kembali mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saat Zhuhur dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat Zhuhur ketika bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya. Kemudian dia mendatanginya saat ‘Ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat ‘Ashar ketika panjang bayangan semua benda dua kali panjang aslinya. Kemudian dia mendatanginya saat Maghrib pada waktu yang sama dengan kemarin dan tidak berubah. Kemudian dia mendatanginya saat ‘Isya' ketika pertengahan malam telah berlalu -atau Jibril mengatakan, sepertiga malam,- lalu beliau shalat ‘Isya'. Kemudian Jibril mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saat hari sudah sangat terang dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat Shubuh kemudian berkata, ‘Di antara dua waktu tersebut adalah waktu shalat’.
At-Tirmidzi mengatakan bahwa Muhammad (yaitu Ibnu Isma'il al-Bukhari) berkata, “Riwayat paling shahih tentang waktu shalat adalah hadits Jabir.”
  1. Zhuhur
    Waktunya dari tergelincirnya matahari hingga bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya.
  2. ‘Ashar
    Waktunya dari saat bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya hingga terbenamnya matahari.
  3. Maghrib
    Waktunya dari terbenamnya matahari hingga hilangnya warna kemerah-merahan pada senja. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : “Waktu shalat Maghrib selama warna kemerah-merahan pada senja belum hilang.”
  4. ‘Isya'
    Waktunya dari hilangnya merah senja hingga pertengahan malam.
    Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu a'alaihi wa sallam: “Waktu shalat ‘Isya' hingga pertengahan malam.” 
  5. Shubuh
    Waktunya dari terbit fajar hingga terbit matahari.
    Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

    وَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوْعِ الْفَجْرِ مَالَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ
“Waktu shalat Shubuh dari terbitnya fajar hingga sebelum matahari terbit."

  1. SHOLAT WUSTHA
Apakah yang Dimaksud dengan ash-Shalat al-Wustha (Pertengahan)?
Allah Ta'ala berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” [Al-Baqarah: 238].

Dari 'Ali Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa di hari terjadinya perang al-Ahzab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
شَغَّلُوْنَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ، ملأَ اللهُ بُيُوْتَهُمْ وَقُبُوْرَهُمْ نَارًا.
"Mereka telah menyibukkan kita dari shalat al-Wustha (yaitu) shalat 'ashar. Semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kubur-kubur mereka dengan api.
Jika Cuaca Sangat Panas, Disunnahkan Menunda Shalat Zhuhur sampai Cuaca Agak Dingin (Selama Tidak Keluar dari Waktunya.)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوْا بِالصَّلاَةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْـحِ جَهَنَّمَ.
"Jika hari sangat panas, maka tidaklah shalat hingga cuaca menjadi agak dingin. Sesungguhnya panas yang sangat itu merupakan bagian dari didihan Jahannam.
Disunnahkan Menyegerakan Shalat 'Ashar Dari Anas Radhiyallahu anhu:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ J كَانَ يُصَلِّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ، فَيَذْهَبُ الذَّاهِبُ إِلَى الْعَوَالِيْ فَيَأْتِي الْعَوَالِيْ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ.
"Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat 'Ashar, sedangkan matahari masih tinggi dan terang. Lalu seseorang pergi dan mendatangi al-'Awali (tempat di sudut Madinah) sedangkan matahari masih tinggi.”
Dosa Orang yang Melewatkan Shalat 'Ashar. Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Orang yang melewatkan shalat 'Ashar seperti orang yang berkurang keluarga dan hartanya." Dari Buraidah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ.
"Barangsiapa meninggalkan shalat 'Ashar, maka terhapuslah amalannya."
Dosa Orang yang Mengakhirkannya Hingga Menjelang Senja (Ketika Matahari Akan Terbenam) Dari Anas Radhiyallahu anhu dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسُ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللهَ إِلاَّ قَلِيْلاً.
'Itulah shalatnya orang munafiq. Dia duduk sambil mengawasi matahari. Hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk syaitan (waktu terbit dan tenggelamnya matahari) ia bangkit dan shalat empat raka'at dengan cepat. Ia tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit.”

(ditulis sesuai dengan daya serap penulis, Jika ada salah pemahaman tentang apa yang disampaikan mohon dikoreksi dan mohon maaf)

Januari 20, 2015

Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal



Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya.Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya.
Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini.
Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya.
"Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?" kata Idris.
Orang tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. "Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji," katanya kepada Idris.
Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya.
Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun.
"Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?"
"Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh."
Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu.
Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara penghulu.
Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tulis, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah.
Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja; Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia ambil Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi'i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia. *Copas Buya Blogspot)

Desember 31, 2014

SEKEDAR USUL

Sebentar lagi Tahun Anggaran 2015 Akan dimulai, alangkah baiknya bila semua aparatur pemerintahan mempunyai semangat baru untuk melaksanakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efesien, termasuk dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah.
Pada awal tahun sudah menjadi kewajiban seluruh KPA untuk mengumumkan rencana umum  pengadaan,  alangkah baiknya bagi satuan kerja kementerian Agama dilingkungan Kantor Wilayah dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/ Kota memaketkan pekerjaan dengan cara menggabugkan kegiatan pengadaan barang / jasa yang sejenis dan kretiria pengadaannya sama dari seluruh DIPA yang dikelola oleh KPA tersebut. pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota mengelola sekitar 8 DIPA yang masing masing DIPA tersebut biasanya memiliki anggaran untuk pengadaan barang seperti Kertas, Printer, Laptop, Meja, Kursi, Almari, Scaner dll.
Pada tahun Tahun sebelumnya pengadaan tersebut dilaksanakan secara terpisah, dan waktu yang berbeda-beda, misalnya pengadaan kertas  yang ada di bimas islam, dilaksanakan tersendiri, pada program sekretariat Jenderal dilaksanakan sendiri, begitu juga di program-program lain.
Maka yang terjadi adalah :
  1. Terjadi perbedaan harga kertas yang berbeda-beda antara di program 1 dan progam yang laian, walaupun tokonya / peyeiannya sama dan jenis / Merk Kertas yang sama
  2. Terlalu banyak proses pengadaan (berkali-kali dalam setiap pengaaan) selalu ada penawaran, survey harga, HPS, Evaluasi (biasanya hanya sebatas foralitas kelengkapan administrasi)
  3. Pekerjaan tidak efektif dan  efesien dari segi waktu, biaya dan tenaga.

Apabila Pemaketan pekerjaan tersebut di gabung, misalnya ada pengadaan Laptop dan Printer pada masing-masing masing program 3 unit dan bila di gabung menjadi 24 Unit maka akan memudahkan pekerjaan dalam pengadaan tersebut diantaranya :
  1. Proses pengadaan hanya sekali dengan cara di lelang apabila (akumulasi harga barang tersebut melebihi 200 jt atau pengadaan langsung untuk HPS kurang dari 200 jt;
  2. Spesifikasi barang dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan PPK  masing- masing;
  3. Penandatanganan Kontrak dipecah sesuai dengan anggaran masing-masing PPK;
  4. Ada kesamaan harga pada barang-barang yang memiliki kesamaan jenis dan spesfikasinya
  5. Efektif dan efesien dalam proses pengadaan.
  6. Pelaksanaan diserahkan kepada ULP yang sudah dibentuk oleh masing-masing Kemenag.
Karena pada prinsipnya penggabungan paket diperbolehkan selama tidak menghalangi  paket untuk usaha kecil atau boleh dipecah asalkan tidak menghinadri lelang.

Desember 19, 2014

Kenapa Harus Galau???

Galau, suatu keadaan yang menggambarkan pikiran yang kacau/ tidak karuan, sumber kegalauan biasanya sebuah keinginan yang belum tercapai/ terpenuhi, tetapi sangat malu dan tidak nyaman apabila kegagalan untuk memenuhi keinginan tersebut diketahui oleh orang lain, dalam kata lain takut dinilai negatif oleh orang,

***

Al-kisah, disebuah desa yang terpencil yang masyarakatnya masih lugu, ada sebuah keluarga yang sangat terpandang dimasyarat desa tersebut, sebut saja namanya pak Tedjo, Pak Tedjo memiliki seorang putri yang bernama Surti, yang merupakan salah satu lulusan Perguruan Tinggi Ternama di Semarang, setelah Lulus SMU Pak Tedjo ingi Surti menjadi Satu satunya sarjana dikampungnya, karena saat itu belum ada satupun sarjana dikampung tersebut, tetapi syang dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru ternyata Surti Gagal, karena malu dengan warga sekitar yang sudah tahu bahwa nanti Surti akan kuliah dan menjadi satu-satunya Sarjana dikampung tersebut, maka Pak Tedjo rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk dapat masuk perguruan tinggi tersebut dengan cara yang tidak betul,
Saat kuliah surti sering kali gagal dalam menyelesaikan mata kuliahnya, sehingga surti telat lulus kuliahnya, kareana malu Putrinya tak jua lulus kuliah, Pak Tedjo pun rela mengeluarkan uang jutaan rupiah agar puterinya dapat segera lulus dan tidak jadi omongan orang.
Setelah Lulus dan diwisuda sebagai seorang Sarjana, berbulan-bulan, bahkan sampai tahunan Surti belum juga mendapatkan pekerjaan, berkali-kali surti menjalani tes untuk masuk kerja selalu gagal, tidak nyaman mendengar omongan masyarakat ”Percuma, sekolah tinggi-tinggi hanya menjadi pengangguran”    Pak Tedjo pun memasukan Surti Menjadi PNS memalui jalur yang tidak dibenarkan dengan membayar ratusan jua rupiah kepada oknum tertentu untuk dapat diterima sebagai PNS. (Kisah ini hanya fiktif, apabila ada kesamaan cerita mungin karena kisah ini sudah menjadi kebiasaan di masyarakat)

***

Sering kali kita malu terhadap omongan orang dibanding malu kepada Allah SWT, kadang kita sangat berani menentang-Nya hanya untuk mendapat pengakuan HEBAT di mata masyarakat, sering kali orang mendadak galau apabila mendapati kondisi pertanyaan seperti ini : Kuliah tak lulus-lulus ditanya Kapan Wisudanya?, Kerjaan tak dapat-dapat di tanya Sudah Kerja dimana? Gaji pas-pasan sering di tanya Gajimu sekarang sudah berapa? Jodoh ga datang-datang sering ditanya Kapan Nikahnya? Momongan belum jua di beri selalu ditannya anaknya sudah berapa? Dst...
Seharusnya kita lebih galau kalau: Subuhnya Kesiangan, Selalu ketinggalan sholat berjamaah, belum bisa meninggalkan kemaksiatan, diajak ngaji tak mau ikut, dinasehati tidak mau nurut, lebih banyak fesbukan daripada rukuk dan sujud.
Seharusnya kita lebih galau dengan kehidupan setelah mati, karena  hidup ini paling hanya sekita 60 s.d 90 tahun, itupun kalau nyampai. Apabila didunia ada kekurangan, kelemahan, keterbatasan toh hanya sekitaran umur kita itu, tetapi bagaimana apabila kita mengabaikan urusan akhirat yang tak terukur wktunya, masihkah kita galau dengan urusan dunia? Masihkah kita galau dengan reputasi kita? Masihkah kita galau apabila kita tidak mendapatkan pekerjaan lalau ada keinginan untuk curang biar bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus dan terhormat?
Kita masih sering lupa, bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukan seberapa panjang deret gelar yang menempel pada nama kita, tetapi seberapa bijakah dengan ilmu yang kita miliki, terkadang ada seorang yang sudah haji tersinggung apabila tidak di panggil dengan sebutan pak haji atau Ibu Hajah, paahal haji adalah salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan bagi yang mamapu, sama juga halnya sholat dan Zakat, orang yang sudah sholat pun tak marah kalau tidak dipanggil dengan Musholi, orang yang sudah berzakatpun tiak pernah marah apabila tidak dipanggil dengan Bapak/ Ibu Muzaki, jadi gelar seseorang belum tentu berbanding lurus dengan keilmuan dan ketakwaan yang dimiliki oleh orang tersebut.
Sesungguhnya ukuan itu bukan dari seberapa banyak Tabungan Kita, bukan seberapa mewah kendaraan kita, bukan dari apa Profesi kita, bukan dari membesarnya Usaha kita, bukan dari melesatnya Karir kita, bukan dari besarnya penghasilan kita, Keberkahan Rizki itu hadir dari rasa syukur atas seluruh yang terkarunia pada diri kita, dari tingkat kedermawanan kita dan rasa berbagi,    


Desember 01, 2014

MENYONGSONG REMBULAN

”Lir-ilir tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro. Dodot-iro dodot-iro kumitir bedah ing pinggir, dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, yo surako, surak iyyoo!”
Gerhana rembulan hampir total. Malam gelap gulita. Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi. Sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi.
Matahari adalah lambang Tuhan. Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga, dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita.
Dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas. Orang menyangka kepala adalah kaki. Orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain, atau bahkan sengaja menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, bahkan ke mana melangkah, dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir, kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit. Bahkan kaki kita sudah berlari ke sana ke mari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajarannya-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk insaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana Iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.
Siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia, yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka? Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan.
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari, sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya, atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat, agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi?

(Emha Ainun Nadjib dalam album Kyai Kanjeng: Menyorong Rembulan)

November 19, 2014

BBM Naik,... Aku Rapopo !!!

Tepat setelah pukul 00.00 WIB , harga BBM di naikkan. Maka hal ini tidak kita pungkiri juga memberatkan diri kita dari sisi naiknya harga – harga barang lainnya yang biasanya mengikuti kenaikan BBM.Namun, sebagian manusia keliru dalam mengekspresikan keadaan ini. Demo, mencela pemerintah, dan hal – hal yang tidak sesuai syar’ipun gencar dilakukan.
Adapun bagi kita, tidak selayaknya bagi kita untuk mengikuti hal – hal yang sifatnyademikian.Ada beberapa renungan yang perlu kita perhatikan agar kita bisa berlapang dada  dan bijak untuk menyikapi fenomena kenaikan BBM ini.
YANG PERTAMA, adalah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang artinya :“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi )
Sejelek dan sepahit apapun intruksi dan keputusan pemerintah, kita wajib patuh selama itu bukan dalam kemaksiatan.Inilah prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
YANG KEDUA, adalah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang artinya :
”Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).
Dari hadits ini,kita bisa merenungi bahwa sepahit apapun keputusan kenaikan BBM itu, pemerintah tidak sampai menyiksa dan merampas harta kita. Yang terjadi hanyalah mereka mengambil kembali keringanan yang sudah mereka berikan betahun tahun untuk kita nikmati, yaitu subsidi.Mengapa kita harus marah pada mereka?
YANG KETIGA, firman Allah Azza Wa Jalla yang berbunyi :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 5).
Faedah merenungi ayat ini adalah bahwa setelah kesulitan kenaikan harga BBM dan segala imbasnya ini pasti akan diiringi oleh kemudahan dari Allah Yang Maha Memberi Rizki. Mungkin gaji akan naik, mungkin omzet usaha akan bertambah, dan kemungkinan yang lainnya.Dan ini sudah kita alami , karena BBM bukan kali ini saja naik.Toh, naik berapapun kita masih mampu membelinya selama ini.
YANG KEEMPAT, ucapan Al Hasan Al Bashri rahimahullah :
“Aku telah membaca di 90 tempat (90 kali disebutkan) di dalam al Quran, bahwa sesungguhnya Allah telah mentakdirkan rizki dan menjamin rizki itu untuk makhlukNya, dan aku membaca (hanya) pada satu tempat “syaitan menakut-nakutimu akan kefakiran” , lantas apa  kita ragu terhadap perkataan Yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita mempercayai perkataan pembohong hanya di satu tempat ?”
Dari sini saudara – saudariku, yakinlah bahwa naik atau turunnya BBM dan harga – harga tidak akan mengurangi atau menambah kekayaan kita.Semua sudah ditakdirkan Allah Azza Wa Jalla.
YANG KELIMA, adalah wajib bagi kita untuk bersabar dalam setiap kesulitan. Ini sebagaimana yang diajarkan Nabi shalallahu alaihi wa sallam :
عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ
“Amat menakjubkan keadaan orang mu’min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seorangpun melainkan hanya untuk orang mu’min itu belaka. Apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Apabila ia ditimpa musibah, maka iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Dari sinilah keimanan kita diuji. Jika kita bersabar, kita menunjukkan kualitas keimanankita.Jika kita mengeluh, apalagi sampai demo (semoga tidak ya..) maka kita perlu mengkoreksi keimanan kita.
DAN TERAKHIR , renungan ini saya tutup dengan ucapan Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah dalam salah satu pernyataan beliau yang masyhur :
“Siapa saja yang ingin duduk bersama para pendusta besar, maka hendaknya ia baca koran-koran, apabila sedikit saja roti, gula, dan garam berkurang maka mereka langsung mengkafirkan pemerintah. Namun ketika pemerintah memenuhi keinginan mereka, justru bermuka dua sambil memuji-muji : “Pemimpin kita adalah pemimpin yang mendapat petunjuk.”
Jadi dari sini kita hendaknya menjauhi segala pemberitaan media massa yang berpotensi membuat kita terprovokasi atau ikut – ikut menjelekkan pemerintah. Biarlah media ngomong apa, yang penting kita katakan : “ BBM mundhak, aku ra papa.”
Mungkin sedikit renungan ini bisa mengobati segenap kekhawatiran kita tentang kenaikan BBM ini. Ini hanya coret – coretan dari seorang yang faqir di hadapan Allah, maka segenap koreksi dan masukan atas kesalahan tulis  sangat kami harapkan.
Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thoriq.
Akhukum, Jarot  Abu Mas’ud – afallahu anhu
Sumber : WA Ahlus Sunnah Karawang