Agustus 15, 2014

PRILAKU RAKYAT MEMPENGARUHI PRILAKU PEMIMPIN


Pemimpin Nasional sudah terpilih untuk 5 tahun kedepan (walupun masih dalam sengketa), selanjutnya bagaimana sikap kita sebagai seorang warga negara yang baik, sebagai rakyat indonesia ?
Kondisi yang ada saat ini, banyak sekali pemberitaan tentang para pemimpin-pemimpin kita yang berbuat dzolim kepada rakyatnya, banyak yang korupsi, banyak yang menerima suap, manyak yang menyalahgunakan kewenangannya, itulah hidangan sehari-hari yang disuguhkan oleh media masa di Bangsa kita ini, Head Line Surat kabar banyak yang berisi cacian, hujatan, membuka aib para pemimpin dan aib keluarganya, bahkan ada juga fitnah yang keji memerpa para pemimpin.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai muslim? Sebagai warga negara?, sebagai rakyat indonesia? Apakah kita juga akan ikut-ikutan asyik mengolok-olok pemimpin kita, ikut menyebarkan aib peminpin kita? Yang lebih parah lagi apa kita akan juga ikut menyebarkan fitnah yang kita sendiri belum tahu kejelasan benar tidaknya berita tersebut?
Islam memerintahkan untuk taat kepada pemimpin karena dgn ketaatan rakyat kepada pemimpin (selama tak maksiat) maka akan terciptalah keamanan & ketertiban serta kemakmuran.
Prilaku rakyat (orang yang dipimpin)  sangat mempengaruhi prilaku pemimpinya (orang yang memimpin) hal ini dapat kita lihat dari hadis Rasulullah, ada dua buah hadist diantaranya yang dapat kita ambil hikmahnya tentang sikap rakyat yang dapat mempengaruhi pemimpinya :
Pada saat Rasulullah shalat Subuh dengan membaca surat Ar-Ruum, lalu bacaan beliau bercampur dgn lainnya. Setelah selesai shalat beliau bersabda:


Bagaimana keadaan orang-orang yg shalat tanpa bersuci dengan baik? Bacaan AI Qur'an kita menjadi kacau karena mereka. [HR. Nasai No.938].
Pelajaran yang kita ambil dari hadist tersebut adalah: ada sebagaian/ sekelompok orang yang tidak bersuci secarara sempurna (mungkin aa beberapa bagian tubuh yang seharusnya i basuh tetapi tidak dibasuh) dan menjadi makmum Rasulullah pada saat saholat subuh, karena kesalahan beberapa orang makmum dapat mempengaruhi bacaan imam (pemimpin), begitu juga dengan prilaku orang yang dipimpin jika tidak betul prilakunya, tidak betul perbuatannya, dapat mempengaruhi sikap pemimpinnya atau mempengaruhi apa yang dikerjakan oleh pemimpinnya.
Hadist kedua adalah hadist dari Ubadah bin Shamit r.a. berkata, "Suatu ketika Rasulullah saw. keluar untuk memberitahu kami mengenai Lailatul Qadar. Tetapi sayang waktu itu, terjadi pertengkaran diantara dua orang Islam, setelah itu Rasulullah bersabda, "Aku keluar untuk memberitahu kapan munculnya Lailatul Qadar, tetapi sayang si fulan dan si fulan saling mencaci, sehingga penentuan mengenainya telah diangkat, barangkali hal itu lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh, dan kelima."
Pelajaran haist yang dapat kita ambil adalah : Dahulu sebelum ada hadist ini turunnya Lailatul Qadar sudah diketahui oleh Rasulullah SAW, dan setiap akan ada turunnya Lailatul Qadar, Rasulullah selalu memberitahunkan kepada umatnya, tetapi pada saat itu karena pertengkaran 2 orang muslim dan mereka saling mencaci satu sama lain (melakukan perbuatan tercela) dan kedua orang tersebut adalah umat Rasulullah (orang yang dipimpin oleh Rasulullah) maka ilmu untuk dapat mengetahui kapan turunnya Lailatul Qadar lalu diangkat lagi oleh Allah SWT sehingga penentuan turunnya Lailatul Qadar disuruh untuk mencari sendiri pada malam –malam ganjil pada bulan ramadhan,
Dari pelajaran kedua hadist diatas maka dapat kita ambil pelajaran bahwa prilaku rakyat/masyarakat sangat mempengaruhi prilaku pemimpin kita, karena sesungguhnya urusan pemimpin itu adalah urusan Allah, Allah akan memilihkan pemimpin yang baik, yang taat menjalankan perntah agama, yang akan menegakkan kebenaran, yang lebih mencintai rakyatnya, apabila rakyat yang dipimpinnya juga taat menjalankan perintah agama, selalau melakukan perbuatan yang baik dan benar, mencintai pemimpinnya serta patuh dan taat terhadap pemimpinnya, akan tetapi juga sebaliknya Allah akan memilihkan pemimpin untuk yang lebih cinta kepada dunia, apabila rakyatnya juga lebih cinta pada dunia?
Sikap kita sebagai rakyat yang baik, sebagai warga negara yang baik yang beragama Isalam, seharusnya adalah mendukung siapaun pemimpin yang terpilih, tidak perlu menghujat, tidak perlu mencela, tidak perlu mencaci. Karena sesungguhnya urusan pemimpin adalah urusan Allah, lalu pantaskah kita menhujat urusan Allah? Pantaskah kita mencela urusan Allah, pantaskah kita untuk mencaci urusan allah?
Marilah kita bangun bangsa dan negara ini mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga kita sendiri, tidak perlu menunjuk seseorang, tidak perlu menghujat para pemimpin dan yang memilihnya, mari kita bercermin dengan apa yang sudah kita perbuat, apalagi dengan megklaim bahwa dirinya adalah orang baik, orang cerdas, orang paling sholeh, orang paling alim, dan mengangap mayoritas orang indonesia adalah orang yang bodoh, orang yang tidak taat kepada agama, orang-orang jahat, sehingga bangsa indonesia dipilihkan pemimpin yang setipe dengan rakyatnya tersebut, Naudzubillahimindzalik, marilah kita lihat diri kita masing-masing, tidak usah melihat orang laian, Pernahkah dala do’a kita meminta pemimpin yang baik untuk negeri ini, seberapa sering kita berdo’a untuk diberikan pemimpin yang baik untuk negeri ini, sering kali kita berdo’a hanya untuk kebaikan diri dan keluarga kita, kesehatan diri dan keluarga kita, dan keselamatan diri dan keluarga kita.
Dan lebih penting mana? Kita mengoreksi kekurangan pemimpin kita dan menghujatnya, dengan kita mengoreksi sholat kita apakah sudah baik atau belum? Mengoreksi wudhu kita apakah sudah sempurna atau belum? Mengoreksi semua amal kita sudah apakah sudah benar atau belum???
SEORANG MUSLIM YANG BIJAK AKAN TAHU MANA YANG LEBIH PENTING BAGI DIRINYA

(ringkasan  Khutbah Jum’at di Masjid Al-Haif kanwil Kemenag Kepri yang disampaikan Oleh Ust Arif)
Ditulis dengan menggunakan bagasa sendiri, mohon maaf bila ada kesalahan dalam menangkap materi khutbah yang disampaikan oleh Khatib.
Semoga bermanfaat

INGIN MENJADI MANUSIA YANG BAIK-BAIK



Betapa bahagianya Jika kita bisa menjadi manusia yang berarti bagi orang lain
Pada saat lahir Kita menagis dengan kencang tetapi manusia lain di sekitar kita tersenyum bahagia, bergemberia dan tak ada yang bersedih menyambut kelahiran kita.
Dan pada saat wafat nanti, kita tersenyum bahagia, karena sudah selesai melaksanakan tugas sebagai makhluk Allah SWT dengan baik di dunia, tetapi manusia di sekeliling kita menangis, turut berduka karena merasa kehilangan kita.
Hindarkan kami dari perbuatan keji dan munkar ya Allah, tunjukanlah kami ke jalan yang benar, jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang engakau Ridhoi dan yang Engkau Beri Nikmat, dan bukan jalannya orang-orang yang engaku murkai dan engkau sesatkan.
Pada saat maut datang nanti semoga kami bukan tergolong orang-orang yang menangis karena ketakutan mempertanggungjawabkan perbuatan kami di dunia, yang penuh tipu daya, tamak, rakus, menghalalkan segala cara untuk memperoleh kenikmatan dunia, suka ngapusi/ bohong dan orang-orang disekitar Kami tersenyum, karena sudah tidak ada lagi manusia pembuat onar dan pelaku maksiat yang tamak, rakus, serakah an sombong...
Teman-temanku, sahabat-sahabtku yang baik. Maafkan aku....
Apabila keberadaanku selama ini menyebabkan resah dan tidak nyaman.
Sungguh tidak ada maksud secara sengaja untuk menyakiti teman-teman, dan sahabt-sahabt semua, hanya mungkin karena kebodohanku, kekurangan pergaulanku, kekurang pandaianku dalam menyampaikan kata-kata, kekurang pandaianku bersikap, sehingga terkadang menyinggung perasaan kalian.
Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Agustus 08, 2014

TUGAS DAN TANGUNG JAWAB PPHP


TUGAS DAN TANGUNG JAWAB PPHP

PPHP / Pejabat Penerima  Hasil Pekerjaan adalah salah satu pihak dalam pengadaan barang/jasa pemerintah yang sangat menentukan apakah hasil dari pengadaan barang/jasa tersebut sesuai dengan yang tertuang dalam kontrak/perjanjian antara penyedia dengan PPK atau tidak, walaupun kedudukan atau keberadaan PPHP tidak terlalu diperhaikan dan dipermasalahkan dalam sebuah instansi, tetapi tugas dan tanggung jawab PPHP sangat berat.

Tugas utama PPHP sebagaimana dalam pasal 18 Perpres 54  tahun 2010 dan perubahannya adalah melakukan pemeriksaan/ Pengujian hasil pekerjaan pengadaan barang/jasa sesuai yang tercantum alam dokumen kontrak, yang mencakup kesesuaian jenis, spesifikasi teknis, jumlah/volume/kuantitas, mutu/ kualitas, waktu dan tempat penyelesaian pekerjaan apakah sesuai dengan yang tertuang dalam kontrak atau tidak, serta membuat bertia acara hasil pemeriksaan dan pengujian tersebut.

Sehingga seorang PPHP harus memahami setiap spesifikasi barang/jasa yang akan diadakan dan memahami setiap jenis-jenis kontrak yang digunakan. Apabila didalam pemeriksaan/pengujian dibutuhkan tenaga tekins maka KPA dapat membentuk Tim teknis/ Menunjuk Tenaga Ahli untuk membantu Tugas PPHP (pasal 18 ayat 6 an 7 Perpres 70 tahun 2012)  
Di dalam Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, ketentuan Pasal 18 ayat (4) huruf e disebutkan bahwa syarat syarat PPHP adalah:
  1. PA/KPA menetapkan Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.
  2. Anggota Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan berasal dari pegawai negeri, baik dari instansi sendiri maupun instansi lainnya.
  3. Dikecualikan dari ketentuan pada ayat (2), anggota Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan pada Institusi lain Pengguna APBN/APBD atau Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola dapat berasal dari bukan pegawai negeri.
  4. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
    1. memiliki integritas, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
    2. memahami isi Kontrak;
    3. memiliki kualifikasi teknis;
    4. menandatangani Pakta Integritas; dan
    5. tidak menjabat sebagai Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) atau Bendahara.

Tidak ada syarat khusus dalam pasal tersebut sebagai seorang PPHP (misalnya harus bersertifikat dll,) bahkan seorang PPHP hanya dilarang menjabat sebagai PPSPM dan bendahara, banyak pertannyaan pada satuan kerja pada Madrasah Negeri (MAN, MTsN dan MIN) Apakah boleh PPHP dijabat rangkap oleh PPK atau Pejabat Pengadaan/ Panitia Pengadaan/ anggota Pokja, atau anggota ULP, karena larangan dalam Peraturan Presiden tersebut hanyalah dilarang dirangkap oleh PPSM atau Bendahara.
Kalau berdasarkan aturan Perpres memang hal tersebut tidak dilarang, tetapi dari segi etika pengadaan, saya berpendapat itu kurang tepat, karena dapat menimbulkan  konflik of interest  / pertentangan kepentingan, sorang pejabat pengadaan memeriksa barang yang diadakan sendiri, seorang PPK memeriksa barang yang dia kontrakan sendiri, ya bisa kita pikir sendiri seandianya hal tersebut terjadi????

PERMASALAHAN YANG DIHADAPI OLEH PPHP.

Ada beberapa hal yang menjadi permasalahan yang dihadapi oleh PPHP baik masalah itu dapat berampak hukum (karena merugikan negara) maupun masalah yang berdampak melanggar administrasi, permasalahan tersebut diantaranya :

  1. Sebagaimana disebutkan dalam Perpres 54 tahu 2010 tugas PPHP adalah menguji dan memeriksa kualitas serta kauntitas barang/ jasa yang di hasilkan dari proses tersebut, PPHP tidak ada tugas untuk mengkritisi kelebihan harga, asalkan spesifikasi, jenis, jumlah sesuai yang tercantum dalam kontrak dan diuji sudah berfungsi dengan baik, datang tepat waktu maka PPHP wajib membuat berita acara pemeriksaan barang tersebut dan menyatakan pekerjaan telah selesai dikerjakan. namun ada beberapa kasus pengadaan barang apabila dilihat harganya tidak wajar, ada terjadi kelebihan harga / Markup  harga,  apabila di cek dari harga pasaran, baik memalui internet atau memalaui toko-toko penjual barang, hal ini kadang terjadi masalah bagi PPHP apabila dalam pemeriksaan auditor menganggap ini sebagai temuan yang dikategorikan merugikan negara, maka posisi PPHP sebagai pihak yang menerima pekerjaan sedikit banyak akan dikait-kaitkan dari masalah tersebut, walaupun sesungguhnya kesalahan tersebut kemungkinan terjai karena HPS yang dibuat PPK terlalu tinggi, kemudian Pejabat pengadaan/ Pokja ULP tidak melakukan kaji ulang terhadap HPS yang dibuat oleh PPK, proses pengadaan secara pengadaan langsung, sehingga tidak ada persaingan. 
  2. Masalah yang kedua adalah PPHP merupakan tugas tambahan bukan tugas pokok dari seorang pegawai, apabila PPHP tersebut melaksanakan dinas luar/ keluar kota dalam hal melaksanakan tugas yang berkaitan dengan tupoksinya sebagai seorang pegawai sesuai dengan jabatannya, maka apabila proses pengadaan barang/jasa yang telah selesai pada tanggal PPHP tersebut akan terjadi kesulitan dalam hal pemeriksaan, apabila dibuat berita acara pada hari tersebut PPHP tidak ada di tempat, dan apabila di buat berita acara setelah PPHP pulang dari dinas luar maka, akan terjadi keterlambatan dalam berita cara penyelesaian pekerjaan, sehingga penyedia wajib dikenakan dena, yang itu tidak mungkin dapat diterima oleh penyedia karena bukan kesalaan pada penyedia. ada solusi untuk memecahkan masalah tesebut misalnya dengan mempercayakan tugas PPHP kepada seorang teman yang dapat dipercaya untuk memeriksa barang pada saat datang, dan pada saat PPHP pulang dari dinas luar baru barang tersebut baru diperiksa oleh PPHP untuk memasitikan keseuaian barang dengan kontrak, setelah sesuai baru dibuat berita acara dengan tanggal pada saat barang datang (mengambil langkah yang lebih aman walaupun secara administrasi itu tidak dapat dibenarkan). Dan setelah itu baru diproses pencairannya.
  3. Masalah ketiga, PPHP tdak pernah mengikuti kronologi pengadaan dari awal, mulai dari apa yang dilakukan PPK dari survey harga, menentukan spesifikasi teknis dan membut HPS, samapi dengan proses pada pejabat pengadaan/ ULP, PPHP hanya tahu setelah pekerjaan selesai, kemudian memeriksa apakah barang sesuai dengan kontrak/ tidak. apabila terjadi kasus perbedaan antara barang/jasa yang disediakan oleh penyedia tidak sesuai dengan yang teruang didalam kontrak, maka PPHP tidak akan mau membuat berita acara yang menyatakan pekerjaan sudah selesai dengan baik, pada saat terjadi hal yang demikian yang sering terjadi adalah, bukan barangnya yang diganti untuk menyesuaikan spesifikasi yang ada pada dokumen kontrak, tapi kebanyakan dokumen kontraknya yang diganti menyesuaikan barang yang ada, tetapi harga masih tetap sama. Secara persis PPHP tiak tahu mana yang salah karena memang tidak mengetahui kronologinya, setelah kontrak dan spesifikasi diperbaiki/ disesuaikan dengan barang maka mau tidak mau PPHP harus membuat berita acara pemeriksaan dan menyatakan bahwa barang yang ada sudah sesuai dengan dokumen kontrak.
Itulah resiko seorang PPHP, sering tidak dianggap dalam proses pengadaan, tetapi tanggungjawabnya sangat besar, PPSPM, Benahara dan PPK mencairkan uang dengan acuan sudah diperiksa PPHP, sehingga keputusan PPHP untuk menyatakan sesuai / tidaknya barang tersebut dengan kontrak sangat menentukan.



BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK PENDENDAM


Share dari Status Teman FB

Perhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno,

"Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Meskipun secara politik bersebrangan, Soekarno tetap menghormati keulamaan Hamka.

Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”

Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

Bangsa ini dibangun oleh para negarawan yang tegas tapi santun ...

Karena kritiknya yang tegas pada orde baru, Mohammad Natsir bersama kelompok petisi 50 dicekal.

Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islamy.

Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang.

Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun.

Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu.

Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri.

Misalnya ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Bangsa ini berdiri karena para founding fathers yang toleran dan penuh empati ...

Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sderhana bahkan tak punya rumah.

Ketua Umum Partai Kristen Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah untuk Prawoto.

Bangsa ini besar karena kesederhanaan pemimpinnya ...

Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.

Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, apa yang terjadi?

Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya.

Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.

Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung fairness ...

Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi.

Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”.

Akhirnya diri kita sendirilah yg menentukan :
Jadi besar atau kerdil.

Jadi pemaaf atau pendendam.

Jadi penuh empati atau suka menghakimi.

Jadi penyebar damai atau penebar fitnah.

Agustus 06, 2014

KEUTAMAAN ILMU


KEUTAMAAN ILMU

Ringkasan Kajian Ust. Arif (Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Abas Tanjungpinang)
di Surau Baitussalam      

Bagi seorang Muslim menuntut ilmu hukumnya wajib

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مُسْلِمٍ

“ menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”

(Hadits sahih, diriwayatkan dari beberapa sahabat diantaranya:  Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhum)

Ilmu merupakan Inti dari segala Amal ibadah, karena Ibadah yang diterima memiliki dua kriteria
1.       Iklas
Memurnikan tujuan Beribadah semata-mata hanya murni untuk Allah Swt, Bukan karena pujian dan bukan karena manusia.
2.       Mengikuti Syariat / Mutabaa’ah
Beribadah sesuai dengan tuntunan/ ajaran Rasulullah SAW,

Majelis Ilmu (ilmu agama : kajian ilmu agama, ceramah agama, majelis taklim) dapat dibaratkan seperti hidangan Syurga, dapat kita bayangkan hidangan dunia saja banyak sekali orang yang suka, apalagi hidangan syurga, hanya ada 2 kriteria orang yang tidak suka akan hidangan, yang pertama adalah orang yang sudah kenyang, (dalam hal ilmu berarti orang yang sudah menguasai ilmu tersebut dari A sampai Z, sudah menguasai semua ilmu yang akan diajarkan dalam majelis tersebut) yang kedua aalah orang yang sakit, bagi orang yang sedang sakit makan apa saja tidak terasa enak, sehingga dia tidak suka akan hidangan tersebut (dalam hal ilmu yang dimaksud orang yang sakit tersebut adalah orang yang mungkin sakit hatinya, sakit jiwanya, sakit qolbunya, sehingga akan sulit untuk menerima ilmu yang beranfaat)

Dalam surat Alfatihan yang kita baca minimal 17 kali dalam sehari semalam pada saat sholat lima waktu, kita selalu meminta untuk ditunjukan jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engakau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat.

Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah oarng yang berilmu tetapi tidak mau mengamalkan, tidak mau melaksanakan perintah Allah, tidak mau beribadah kepada Allah sedangkan mereka tahu ilmu/ mengetahui cara beribadah yang sesuai dengan syar’i.
Contoh : Bisa membaca Al-Quran tetapi tidak pernah / Tidak mau membaca Al-Quran, tahu bahwa korupsi, ngapusi, berbohong itu dilarang tetapi masih tetap saja dilakukan, tidak melaksanakan sholat fardhu padahal dia tahu sholat itu wajib dan sudah bisa melaksanakan dan lebih banyak lagi contoh orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya.

Sedangkan yang dimaksud orang-orang yang tersesat adalah orang yang beribadah tetapi tidak memiliki/ tidak tahu ilmunya.
Contoh : sholat tetapi tidak tahu cara-cara sholat yang betul seuai dengan syar’i, puasa tapi tidak tahu hukum-hukum puasa, dan apa yang membatalkan puasa, dan lain sebagainya perbuatan ibadah yang tanpa didasari dengan ilmu.

Maka ilmu merupakan inti dari segala bentuk ibadah, jangan pernah berhenti menuntut ilmu, dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari tersebut, dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu Agama, seseorang dikatakan berilmu apabila seseorang tersebut telah mengetahui hukum suatu perkara sesuai dengan yang tertuang dalam Al_Quran dan Hadist dan melaksanakan perkara tersebut sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW,
Apabila kita memang betul-betul meminta jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT, dan bukan orang-orang yang dimurkai serta bukan orang-orang yang tersesat,
Kita harus menuntut ilmu agam dan mengamalkan ilmu yang sudah kita dapat tersebut,

Semoga bermanfaat, mohon maaf apabila ada salah penafsiran dari yang telah disampaikan oleh Ustadz Arif.



Agustus 04, 2014

BERAGAMA YANG TIDAK KORUPSI


Cerpen by : Emha Ainun Najib

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun."Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya ada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan,yang harus dipilih salah satu:
 pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?".
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan". "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?",kejar si penanya."Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi". Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit,Akulah yang sakit itu.Kalau engkau menegur orang yang kesepian,Akulah yang kesepian itu.Kalau engkau memberi makan orang kelaparan,Akulah yang kelaparan itu. Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?" Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang. Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih,dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, menyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya.
Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas).  Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. Ekstrinsik Vs Intrinsik Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". 

Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik dihadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama:ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri.
Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya. Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang. Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus,melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.
Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama. Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang\memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazalidan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan. Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian.
Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu,rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku,Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis. Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka.
Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah,sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi. Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah,di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali,di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

Juli 27, 2014

POTRET NEGERI YANG KU SAYANG



Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain.

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.

Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya.

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak kita setiap hari diburu dengan waktu, di bentak untuk bergerak lebih cepat dan gesit dan bukan di latih untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya dan dibuat lebih sabar dan peduli.

Di hampir setiap instansi pemerintah dan swasta banyak para pekerja yang suka korupsi.

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak-anak di didik untuk berpenghasilan tinggi dan hidup dengan kemewahan mulai dari pakaian hingga perlengkapan dan bukan di ajari untuk hidup lebih sederhana, ikhlas dan bangga akan kesederhanaan.

Di hampir setiap instansi sipil sampai petugas penegak hukum banyak terjadi kolusi, manipulasi proyek dan anggaran uang rakyat
Mengapa..?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih pintar dan bukan menjadi lebih jujur dan bangga pada kejujuran.

Di hampir setiap tempat kita mendapati orang yang mudah sekali marah dan merasa diri paling benar sendiri.

Mengapa..?
Kerena dulu sejak kecil dirumah dan disekolah mereka sering di marahi oleh orang tua dan guru mereka dan bukannya diberi pengertian dan kasih sayang.

Di hampir setiap sudut kota kita temukan orang yang tidak lagi peduli pada lingkungan atau orang lain.

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah mereka dididik untuk saling berlomba untuk menjadi juara dan bukan saling tolong-menolong untuk membantu yang lemah.

Di hampir setiap kesempatan termasuk di face book ini juga selalu saja ada orang yang mengkritik tanpa mau melakukan koreksi diri sebelumnya.

Mengapa..?
karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah anak-anak biasa di kritik dan bukan di dengarkan segala keluhan dan masalahnya.

Di hampir setiap kesempatan kita sering melihat ada orang "ngotot" dan merasa paling benar sendiri.

Mengapa..?
karena dulu sejak kecil di rumah dan sekolah mereka sering melihat orang tua atau gurunya "ngotot" dan merasa paling benar sendiri.

Di hampir setiap lampu merah dan rumah ibadah kita banyak menemukan pengemis

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah mereka selalu diberitahu tentang kelemahan2 dan kekurangan2 mereka dan bukannya di ajari untuk mengenali kelebihan2 dan kekuatan2 mereka.

Jadi sesungguhnya potret dunia dan kehidupan yang terjadi saat ini adalah hasil dari ciptaan kita sendiri di rumah bersama-sama dengan dunia pendidikan di sekolah.

Jika kita ingin mengubah potret ini menjadi lebih baik, maka mulailah mengubah cara mendidik anak-anak kita dirumah dan disekolah tempat khusus yang dirancang bagi anak untuk belajar menjadi manusia yang berakal sehat dan berbudi luhur.

Di olah kembali dari tulisan George Carlin seorang Comedian pemerhati kehidupan.


Mari kita belajar terus dan terus belajar untuk menjadi orang tua dan guru yang lebih baik agar potret negeri kita bisa berubah menjadi lebih baik mulai dari kita, keluarga kita dan sekolah kita sendiri.

Sumber : www.ayahedy.tk