Januari 20, 2015

Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal



Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya.Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya.
Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini.
Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya.
"Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?" kata Idris.
Orang tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. "Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji," katanya kepada Idris.
Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya.
Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun.
"Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?"
"Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh."
Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu.
Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara penghulu.
Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tulis, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah.
Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja; Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia ambil Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi'i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia. *Copas Buya Blogspot)

Desember 31, 2014

SEKEDAR USUL

Sebentar lagi Tahun Anggaran 2015 Akan dimulai, alangkah baiknya bila semua aparatur pemerintahan mempunyai semangat baru untuk melaksanakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efesien, termasuk dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah.
Pada awal tahun sudah menjadi kewajiban seluruh KPA untuk mengumumkan rencana umum  pengadaan,  alangkah baiknya bagi satuan kerja kementerian Agama dilingkungan Kantor Wilayah dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/ Kota memaketkan pekerjaan dengan cara menggabugkan kegiatan pengadaan barang / jasa yang sejenis dan kretiria pengadaannya sama dari seluruh DIPA yang dikelola oleh KPA tersebut. pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota mengelola sekitar 8 DIPA yang masing masing DIPA tersebut biasanya memiliki anggaran untuk pengadaan barang seperti Kertas, Printer, Laptop, Meja, Kursi, Almari, Scaner dll.
Pada tahun Tahun sebelumnya pengadaan tersebut dilaksanakan secara terpisah, dan waktu yang berbeda-beda, misalnya pengadaan kertas  yang ada di bimas islam, dilaksanakan tersendiri, pada program sekretariat Jenderal dilaksanakan sendiri, begitu juga di program-program lain.
Maka yang terjadi adalah :
  1. Terjadi perbedaan harga kertas yang berbeda-beda antara di program 1 dan progam yang laian, walaupun tokonya / peyeiannya sama dan jenis / Merk Kertas yang sama
  2. Terlalu banyak proses pengadaan (berkali-kali dalam setiap pengaaan) selalu ada penawaran, survey harga, HPS, Evaluasi (biasanya hanya sebatas foralitas kelengkapan administrasi)
  3. Pekerjaan tidak efektif dan  efesien dari segi waktu, biaya dan tenaga.

Apabila Pemaketan pekerjaan tersebut di gabung, misalnya ada pengadaan Laptop dan Printer pada masing-masing masing program 3 unit dan bila di gabung menjadi 24 Unit maka akan memudahkan pekerjaan dalam pengadaan tersebut diantaranya :
  1. Proses pengadaan hanya sekali dengan cara di lelang apabila (akumulasi harga barang tersebut melebihi 200 jt atau pengadaan langsung untuk HPS kurang dari 200 jt;
  2. Spesifikasi barang dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan PPK  masing- masing;
  3. Penandatanganan Kontrak dipecah sesuai dengan anggaran masing-masing PPK;
  4. Ada kesamaan harga pada barang-barang yang memiliki kesamaan jenis dan spesfikasinya
  5. Efektif dan efesien dalam proses pengadaan.
  6. Pelaksanaan diserahkan kepada ULP yang sudah dibentuk oleh masing-masing Kemenag.
Karena pada prinsipnya penggabungan paket diperbolehkan selama tidak menghalangi  paket untuk usaha kecil atau boleh dipecah asalkan tidak menghinadri lelang.

Desember 19, 2014

Kenapa Harus Galau???

Galau, suatu keadaan yang menggambarkan pikiran yang kacau/ tidak karuan, sumber kegalauan biasanya sebuah keinginan yang belum tercapai/ terpenuhi, tetapi sangat malu dan tidak nyaman apabila kegagalan untuk memenuhi keinginan tersebut diketahui oleh orang lain, dalam kata lain takut dinilai negatif oleh orang,

***

Al-kisah, disebuah desa yang terpencil yang masyarakatnya masih lugu, ada sebuah keluarga yang sangat terpandang dimasyarat desa tersebut, sebut saja namanya pak Tedjo, Pak Tedjo memiliki seorang putri yang bernama Surti, yang merupakan salah satu lulusan Perguruan Tinggi Ternama di Semarang, setelah Lulus SMU Pak Tedjo ingi Surti menjadi Satu satunya sarjana dikampungnya, karena saat itu belum ada satupun sarjana dikampung tersebut, tetapi syang dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru ternyata Surti Gagal, karena malu dengan warga sekitar yang sudah tahu bahwa nanti Surti akan kuliah dan menjadi satu-satunya Sarjana dikampung tersebut, maka Pak Tedjo rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk dapat masuk perguruan tinggi tersebut dengan cara yang tidak betul,
Saat kuliah surti sering kali gagal dalam menyelesaikan mata kuliahnya, sehingga surti telat lulus kuliahnya, kareana malu Putrinya tak jua lulus kuliah, Pak Tedjo pun rela mengeluarkan uang jutaan rupiah agar puterinya dapat segera lulus dan tidak jadi omongan orang.
Setelah Lulus dan diwisuda sebagai seorang Sarjana, berbulan-bulan, bahkan sampai tahunan Surti belum juga mendapatkan pekerjaan, berkali-kali surti menjalani tes untuk masuk kerja selalu gagal, tidak nyaman mendengar omongan masyarakat ”Percuma, sekolah tinggi-tinggi hanya menjadi pengangguran”    Pak Tedjo pun memasukan Surti Menjadi PNS memalui jalur yang tidak dibenarkan dengan membayar ratusan jua rupiah kepada oknum tertentu untuk dapat diterima sebagai PNS. (Kisah ini hanya fiktif, apabila ada kesamaan cerita mungin karena kisah ini sudah menjadi kebiasaan di masyarakat)

***

Sering kali kita malu terhadap omongan orang dibanding malu kepada Allah SWT, kadang kita sangat berani menentang-Nya hanya untuk mendapat pengakuan HEBAT di mata masyarakat, sering kali orang mendadak galau apabila mendapati kondisi pertanyaan seperti ini : Kuliah tak lulus-lulus ditanya Kapan Wisudanya?, Kerjaan tak dapat-dapat di tanya Sudah Kerja dimana? Gaji pas-pasan sering di tanya Gajimu sekarang sudah berapa? Jodoh ga datang-datang sering ditanya Kapan Nikahnya? Momongan belum jua di beri selalu ditannya anaknya sudah berapa? Dst...
Seharusnya kita lebih galau kalau: Subuhnya Kesiangan, Selalu ketinggalan sholat berjamaah, belum bisa meninggalkan kemaksiatan, diajak ngaji tak mau ikut, dinasehati tidak mau nurut, lebih banyak fesbukan daripada rukuk dan sujud.
Seharusnya kita lebih galau dengan kehidupan setelah mati, karena  hidup ini paling hanya sekita 60 s.d 90 tahun, itupun kalau nyampai. Apabila didunia ada kekurangan, kelemahan, keterbatasan toh hanya sekitaran umur kita itu, tetapi bagaimana apabila kita mengabaikan urusan akhirat yang tak terukur wktunya, masihkah kita galau dengan urusan dunia? Masihkah kita galau dengan reputasi kita? Masihkah kita galau apabila kita tidak mendapatkan pekerjaan lalau ada keinginan untuk curang biar bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus dan terhormat?
Kita masih sering lupa, bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukan seberapa panjang deret gelar yang menempel pada nama kita, tetapi seberapa bijakah dengan ilmu yang kita miliki, terkadang ada seorang yang sudah haji tersinggung apabila tidak di panggil dengan sebutan pak haji atau Ibu Hajah, paahal haji adalah salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan bagi yang mamapu, sama juga halnya sholat dan Zakat, orang yang sudah sholat pun tak marah kalau tidak dipanggil dengan Musholi, orang yang sudah berzakatpun tiak pernah marah apabila tidak dipanggil dengan Bapak/ Ibu Muzaki, jadi gelar seseorang belum tentu berbanding lurus dengan keilmuan dan ketakwaan yang dimiliki oleh orang tersebut.
Sesungguhnya ukuan itu bukan dari seberapa banyak Tabungan Kita, bukan seberapa mewah kendaraan kita, bukan dari apa Profesi kita, bukan dari membesarnya Usaha kita, bukan dari melesatnya Karir kita, bukan dari besarnya penghasilan kita, Keberkahan Rizki itu hadir dari rasa syukur atas seluruh yang terkarunia pada diri kita, dari tingkat kedermawanan kita dan rasa berbagi,    


Desember 01, 2014

MENYONGSONG REMBULAN

”Lir-ilir tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro. Dodot-iro dodot-iro kumitir bedah ing pinggir, dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, yo surako, surak iyyoo!”
Gerhana rembulan hampir total. Malam gelap gulita. Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi. Sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi.
Matahari adalah lambang Tuhan. Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga, dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita.
Dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas. Orang menyangka kepala adalah kaki. Orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain, atau bahkan sengaja menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, bahkan ke mana melangkah, dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir, kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit. Bahkan kaki kita sudah berlari ke sana ke mari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajarannya-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk insaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana Iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.
Siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia, yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka? Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan.
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari, sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya, atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat, agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi?

(Emha Ainun Nadjib dalam album Kyai Kanjeng: Menyorong Rembulan)

November 19, 2014

BBM Naik,... Aku Rapopo !!!

Tepat setelah pukul 00.00 WIB , harga BBM di naikkan. Maka hal ini tidak kita pungkiri juga memberatkan diri kita dari sisi naiknya harga – harga barang lainnya yang biasanya mengikuti kenaikan BBM.Namun, sebagian manusia keliru dalam mengekspresikan keadaan ini. Demo, mencela pemerintah, dan hal – hal yang tidak sesuai syar’ipun gencar dilakukan.
Adapun bagi kita, tidak selayaknya bagi kita untuk mengikuti hal – hal yang sifatnyademikian.Ada beberapa renungan yang perlu kita perhatikan agar kita bisa berlapang dada  dan bijak untuk menyikapi fenomena kenaikan BBM ini.
YANG PERTAMA, adalah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang artinya :“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi )
Sejelek dan sepahit apapun intruksi dan keputusan pemerintah, kita wajib patuh selama itu bukan dalam kemaksiatan.Inilah prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
YANG KEDUA, adalah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang artinya :
”Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).
Dari hadits ini,kita bisa merenungi bahwa sepahit apapun keputusan kenaikan BBM itu, pemerintah tidak sampai menyiksa dan merampas harta kita. Yang terjadi hanyalah mereka mengambil kembali keringanan yang sudah mereka berikan betahun tahun untuk kita nikmati, yaitu subsidi.Mengapa kita harus marah pada mereka?
YANG KETIGA, firman Allah Azza Wa Jalla yang berbunyi :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 5).
Faedah merenungi ayat ini adalah bahwa setelah kesulitan kenaikan harga BBM dan segala imbasnya ini pasti akan diiringi oleh kemudahan dari Allah Yang Maha Memberi Rizki. Mungkin gaji akan naik, mungkin omzet usaha akan bertambah, dan kemungkinan yang lainnya.Dan ini sudah kita alami , karena BBM bukan kali ini saja naik.Toh, naik berapapun kita masih mampu membelinya selama ini.
YANG KEEMPAT, ucapan Al Hasan Al Bashri rahimahullah :
“Aku telah membaca di 90 tempat (90 kali disebutkan) di dalam al Quran, bahwa sesungguhnya Allah telah mentakdirkan rizki dan menjamin rizki itu untuk makhlukNya, dan aku membaca (hanya) pada satu tempat “syaitan menakut-nakutimu akan kefakiran” , lantas apa  kita ragu terhadap perkataan Yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita mempercayai perkataan pembohong hanya di satu tempat ?”
Dari sini saudara – saudariku, yakinlah bahwa naik atau turunnya BBM dan harga – harga tidak akan mengurangi atau menambah kekayaan kita.Semua sudah ditakdirkan Allah Azza Wa Jalla.
YANG KELIMA, adalah wajib bagi kita untuk bersabar dalam setiap kesulitan. Ini sebagaimana yang diajarkan Nabi shalallahu alaihi wa sallam :
عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ
“Amat menakjubkan keadaan orang mu’min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seorangpun melainkan hanya untuk orang mu’min itu belaka. Apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Apabila ia ditimpa musibah, maka iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Dari sinilah keimanan kita diuji. Jika kita bersabar, kita menunjukkan kualitas keimanankita.Jika kita mengeluh, apalagi sampai demo (semoga tidak ya..) maka kita perlu mengkoreksi keimanan kita.
DAN TERAKHIR , renungan ini saya tutup dengan ucapan Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah dalam salah satu pernyataan beliau yang masyhur :
“Siapa saja yang ingin duduk bersama para pendusta besar, maka hendaknya ia baca koran-koran, apabila sedikit saja roti, gula, dan garam berkurang maka mereka langsung mengkafirkan pemerintah. Namun ketika pemerintah memenuhi keinginan mereka, justru bermuka dua sambil memuji-muji : “Pemimpin kita adalah pemimpin yang mendapat petunjuk.”
Jadi dari sini kita hendaknya menjauhi segala pemberitaan media massa yang berpotensi membuat kita terprovokasi atau ikut – ikut menjelekkan pemerintah. Biarlah media ngomong apa, yang penting kita katakan : “ BBM mundhak, aku ra papa.”
Mungkin sedikit renungan ini bisa mengobati segenap kekhawatiran kita tentang kenaikan BBM ini. Ini hanya coret – coretan dari seorang yang faqir di hadapan Allah, maka segenap koreksi dan masukan atas kesalahan tulis  sangat kami harapkan.
Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thoriq.
Akhukum, Jarot  Abu Mas’ud – afallahu anhu
Sumber : WA Ahlus Sunnah Karawang

Agustus 15, 2014

PRILAKU RAKYAT MEMPENGARUHI PRILAKU PEMIMPIN


Pemimpin Nasional sudah terpilih untuk 5 tahun kedepan (walupun masih dalam sengketa), selanjutnya bagaimana sikap kita sebagai seorang warga negara yang baik, sebagai rakyat indonesia ?
Kondisi yang ada saat ini, banyak sekali pemberitaan tentang para pemimpin-pemimpin kita yang berbuat dzolim kepada rakyatnya, banyak yang korupsi, banyak yang menerima suap, manyak yang menyalahgunakan kewenangannya, itulah hidangan sehari-hari yang disuguhkan oleh media masa di Bangsa kita ini, Head Line Surat kabar banyak yang berisi cacian, hujatan, membuka aib para pemimpin dan aib keluarganya, bahkan ada juga fitnah yang keji memerpa para pemimpin.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai muslim? Sebagai warga negara?, sebagai rakyat indonesia? Apakah kita juga akan ikut-ikutan asyik mengolok-olok pemimpin kita, ikut menyebarkan aib peminpin kita? Yang lebih parah lagi apa kita akan juga ikut menyebarkan fitnah yang kita sendiri belum tahu kejelasan benar tidaknya berita tersebut?
Islam memerintahkan untuk taat kepada pemimpin karena dgn ketaatan rakyat kepada pemimpin (selama tak maksiat) maka akan terciptalah keamanan & ketertiban serta kemakmuran.
Prilaku rakyat (orang yang dipimpin)  sangat mempengaruhi prilaku pemimpinya (orang yang memimpin) hal ini dapat kita lihat dari hadis Rasulullah, ada dua buah hadist diantaranya yang dapat kita ambil hikmahnya tentang sikap rakyat yang dapat mempengaruhi pemimpinya :
Pada saat Rasulullah shalat Subuh dengan membaca surat Ar-Ruum, lalu bacaan beliau bercampur dgn lainnya. Setelah selesai shalat beliau bersabda:


Bagaimana keadaan orang-orang yg shalat tanpa bersuci dengan baik? Bacaan AI Qur'an kita menjadi kacau karena mereka. [HR. Nasai No.938].
Pelajaran yang kita ambil dari hadist tersebut adalah: ada sebagaian/ sekelompok orang yang tidak bersuci secarara sempurna (mungkin aa beberapa bagian tubuh yang seharusnya i basuh tetapi tidak dibasuh) dan menjadi makmum Rasulullah pada saat saholat subuh, karena kesalahan beberapa orang makmum dapat mempengaruhi bacaan imam (pemimpin), begitu juga dengan prilaku orang yang dipimpin jika tidak betul prilakunya, tidak betul perbuatannya, dapat mempengaruhi sikap pemimpinnya atau mempengaruhi apa yang dikerjakan oleh pemimpinnya.
Hadist kedua adalah hadist dari Ubadah bin Shamit r.a. berkata, "Suatu ketika Rasulullah saw. keluar untuk memberitahu kami mengenai Lailatul Qadar. Tetapi sayang waktu itu, terjadi pertengkaran diantara dua orang Islam, setelah itu Rasulullah bersabda, "Aku keluar untuk memberitahu kapan munculnya Lailatul Qadar, tetapi sayang si fulan dan si fulan saling mencaci, sehingga penentuan mengenainya telah diangkat, barangkali hal itu lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh, dan kelima."
Pelajaran haist yang dapat kita ambil adalah : Dahulu sebelum ada hadist ini turunnya Lailatul Qadar sudah diketahui oleh Rasulullah SAW, dan setiap akan ada turunnya Lailatul Qadar, Rasulullah selalu memberitahunkan kepada umatnya, tetapi pada saat itu karena pertengkaran 2 orang muslim dan mereka saling mencaci satu sama lain (melakukan perbuatan tercela) dan kedua orang tersebut adalah umat Rasulullah (orang yang dipimpin oleh Rasulullah) maka ilmu untuk dapat mengetahui kapan turunnya Lailatul Qadar lalu diangkat lagi oleh Allah SWT sehingga penentuan turunnya Lailatul Qadar disuruh untuk mencari sendiri pada malam –malam ganjil pada bulan ramadhan,
Dari pelajaran kedua hadist diatas maka dapat kita ambil pelajaran bahwa prilaku rakyat/masyarakat sangat mempengaruhi prilaku pemimpin kita, karena sesungguhnya urusan pemimpin itu adalah urusan Allah, Allah akan memilihkan pemimpin yang baik, yang taat menjalankan perntah agama, yang akan menegakkan kebenaran, yang lebih mencintai rakyatnya, apabila rakyat yang dipimpinnya juga taat menjalankan perintah agama, selalau melakukan perbuatan yang baik dan benar, mencintai pemimpinnya serta patuh dan taat terhadap pemimpinnya, akan tetapi juga sebaliknya Allah akan memilihkan pemimpin untuk yang lebih cinta kepada dunia, apabila rakyatnya juga lebih cinta pada dunia?
Sikap kita sebagai rakyat yang baik, sebagai warga negara yang baik yang beragama Isalam, seharusnya adalah mendukung siapaun pemimpin yang terpilih, tidak perlu menghujat, tidak perlu mencela, tidak perlu mencaci. Karena sesungguhnya urusan pemimpin adalah urusan Allah, lalu pantaskah kita menhujat urusan Allah? Pantaskah kita mencela urusan Allah, pantaskah kita untuk mencaci urusan allah?
Marilah kita bangun bangsa dan negara ini mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga kita sendiri, tidak perlu menunjuk seseorang, tidak perlu menghujat para pemimpin dan yang memilihnya, mari kita bercermin dengan apa yang sudah kita perbuat, apalagi dengan megklaim bahwa dirinya adalah orang baik, orang cerdas, orang paling sholeh, orang paling alim, dan mengangap mayoritas orang indonesia adalah orang yang bodoh, orang yang tidak taat kepada agama, orang-orang jahat, sehingga bangsa indonesia dipilihkan pemimpin yang setipe dengan rakyatnya tersebut, Naudzubillahimindzalik, marilah kita lihat diri kita masing-masing, tidak usah melihat orang laian, Pernahkah dala do’a kita meminta pemimpin yang baik untuk negeri ini, seberapa sering kita berdo’a untuk diberikan pemimpin yang baik untuk negeri ini, sering kali kita berdo’a hanya untuk kebaikan diri dan keluarga kita, kesehatan diri dan keluarga kita, dan keselamatan diri dan keluarga kita.
Dan lebih penting mana? Kita mengoreksi kekurangan pemimpin kita dan menghujatnya, dengan kita mengoreksi sholat kita apakah sudah baik atau belum? Mengoreksi wudhu kita apakah sudah sempurna atau belum? Mengoreksi semua amal kita sudah apakah sudah benar atau belum???
SEORANG MUSLIM YANG BIJAK AKAN TAHU MANA YANG LEBIH PENTING BAGI DIRINYA

(ringkasan  Khutbah Jum’at di Masjid Al-Haif kanwil Kemenag Kepri yang disampaikan Oleh Ust Arif)
Ditulis dengan menggunakan bagasa sendiri, mohon maaf bila ada kesalahan dalam menangkap materi khutbah yang disampaikan oleh Khatib.
Semoga bermanfaat

INGIN MENJADI MANUSIA YANG BAIK-BAIK



Betapa bahagianya Jika kita bisa menjadi manusia yang berarti bagi orang lain
Pada saat lahir Kita menagis dengan kencang tetapi manusia lain di sekitar kita tersenyum bahagia, bergemberia dan tak ada yang bersedih menyambut kelahiran kita.
Dan pada saat wafat nanti, kita tersenyum bahagia, karena sudah selesai melaksanakan tugas sebagai makhluk Allah SWT dengan baik di dunia, tetapi manusia di sekeliling kita menangis, turut berduka karena merasa kehilangan kita.
Hindarkan kami dari perbuatan keji dan munkar ya Allah, tunjukanlah kami ke jalan yang benar, jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang engakau Ridhoi dan yang Engkau Beri Nikmat, dan bukan jalannya orang-orang yang engaku murkai dan engkau sesatkan.
Pada saat maut datang nanti semoga kami bukan tergolong orang-orang yang menangis karena ketakutan mempertanggungjawabkan perbuatan kami di dunia, yang penuh tipu daya, tamak, rakus, menghalalkan segala cara untuk memperoleh kenikmatan dunia, suka ngapusi/ bohong dan orang-orang disekitar Kami tersenyum, karena sudah tidak ada lagi manusia pembuat onar dan pelaku maksiat yang tamak, rakus, serakah an sombong...
Teman-temanku, sahabat-sahabtku yang baik. Maafkan aku....
Apabila keberadaanku selama ini menyebabkan resah dan tidak nyaman.
Sungguh tidak ada maksud secara sengaja untuk menyakiti teman-teman, dan sahabt-sahabt semua, hanya mungkin karena kebodohanku, kekurangan pergaulanku, kekurang pandaianku dalam menyampaikan kata-kata, kekurang pandaianku bersikap, sehingga terkadang menyinggung perasaan kalian.
Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.